Minggu, 13 Februari 2011

PINALTI

Sumber gambar: www.orangidiotyangkaya.blogspot.com

JIKA ada orang menganggap pinalti adalah puncak sebuah pertandingan sepakbola, saya akan bersemangat mendebatnya. Sebab bagi saya, ia lebih menyerupai jalan pintas. Yang tentu saja lahir dari sebuah kesepakatan. Ia menyerupai jalan akhir yang ditempuh oleh orang-orang yang sudah lelah. Sebagaimana jalan pintas umumnya, selalu ada yang kurang di sana. Karena itu, saya tidak menyukai kepintasan itu sebagaimana saya menyukai letupan emosionalnya.


Ini yang saya rasakan ketika menyaksikan adu pinalti Sriwijaya FC melawan MUA Thailand. Seteah bertanding mengesankan 90 menit, kedua tim sama ngototnya pada 30 menit tambahan waktu. Akhirnya, wasit memilih jalan pintas itu.

Penendang kelima MUA gagal. Ini memberi optimisme pada publik Jaka Baring. Tapi demikian juga yang terjadi pada penendang ke lima Sriwijaya. Penendang ke enam Muangthong United kembali batal sehingga memberi kesempatan besar kepada Sriwijaya. Penonton yang menyesaki Jaka Baring girang bukan kepalang. Mereka berdiri mengibarkan bender klub. Ada pula yang melambai-lambaikan shall dan ikat kepala.

Tapi, penendang keenam asal palembang ini juga gagal. Tendangannya keras melaju ke sudut kanan penjaga gawang. Namun bola dapt ditepis dan dipeluk kiper Muangthong. Posisi, baik skor maupun psikologis kembali seimbang 50; 50. Penendang berikutnya sama-sama bisa melesakan bola, memaksa penjaga gawang menyaskikan jaringan bergetar.

Dewi Fortuna berpihak ke Sriwijaya. Penendang ke sembilan MUA, gagal. Fery Rotinsulu, penjaga gawang yang diramal akan banting setir menjadi model setelah pensiun nanti, memblok bola dengan sangat baik. Maka, penentuan ada pada A Jusfrianto, pemain senior Sriwijaya yang sebenarnya tidak masuk daftar penendang utama. Pandangan Jufrianto berat. Ia menatap wajh penjaga gawang MUA dengan tidak terlalu seksama. Beberapa saat ia juga memandangi pjok-pojok gawang. Penonton terdiam menyaksikan pemain bertahan gaek ini mengambil ancang-ancang.

Dan goal! Tendangannya mengangkat Siriwijaya menjadi pemenang. Satu tendangan itu menenggelamkan MUA menjadi pecundang. Sebelas pemain yang bertanding selama 120 menit, harus terdiam oleh sebuah tendangan lawan yang dilesakan dari titik 12 pas. Kelak, orang akan mengenang Sriwijayalah pemenangnya, dan MUA adalah pecundang. Ornag tidak akan ingat lagi, Gangda bermain bagus sore itu. orang juga akan abai, kiper MUA berkali-kali menyelematkan gawangnya dari shooting keras Keith Kayamba Gumb.

Pinalti adalah tragedi. Pinalti selalu minus narasi. Pinalti menghapus deskirpis panjang tentang upaya manusia membuktikan dirinya. Pinalti menghapus upaya sekelompk manusia bekerja sam meraih tujuan yang sama. Pinalti menyederhanakn pilihan menjadi dua. Pinalti hanya berhasrat mendikotomikan sesuatu pada dua kutub yang berbeda. Adu pinalti, hanya jalan pintas. Sebuah cara yang ditempuh oleh orang-orang yang telah merasa lelah.

Kenapa pinalti muncul, pertama sebagai gagasan kemudian disepakati sebagai aturan? Padahal orang telanjur bersepakat, olahraga bukan perkara kalah dan menang belaka. Sebab, jika dijadikan demikian sederhana, olahraga adalah malapetaka. Olahraga justru akan menjadi penindasan dan era diksriminasi baru. Kenapa pinalti ada?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar