Kamis, 28 Januari 2010

Kurma bagi Yanusa Nugroho dan Yusrizal KW

Bagi masyarakat Islam di Indonesia Ramdhan bukanlah penanda waktu semata, meainkan momentum terjadinya pelbagi prosesi budaya. Setelah Ramdahan berakulturasi dengan tradisi ke-Indonesiaan Ramdhan menjadi penanda kebudayan yang sangat khas. Ramadhan berubah menjadi pusat peristiwa yang mengjawantah berbagai watak manusia.

Momentum Ramadhan juga tidak lepas dari pengamatan para cerpenis Indonesia. Berbagai cerita tentang Ramadhan, baik yang bercerita tentang kesakralan maupun kebanalannya, mudah ditemukan. Bahkan, cerita pendek bertema Ramadhan dan Lebaran sudah dapat ditemukan pada zaman Pandji Poestaka. Cerpen Armijn Pane berjudul Jika Pohon Jati Berkembang misalnya, menjadikan lebaran sebagai tema sentral penceritaan. Selain itu ada pula cerpen Lebaran di Kampung karya Muhammad Dimyati.

Meski sama-sam bercerita tentang Ramadhan dan Lebaran, cerpen-cerpan pada zaman Pandji Poestaka dan zaman-zaman setelahnya memiliki perbedaan. Salah satu sebab perbedaan tersebut adalah dinamika masyarakat yang melatarbelaknagi proses kreatif penulisnya. Kondisi masyarakat Islam Indonesia pada tahun 30-an tentu sangat berbeda dengan kondisi masyarakat pada tahun 90-an atau bahkan tahun 2000-an.

Dinamika dalam masyarakat pada akhirnya juga mengubah persepsi masyarakat tentang Ramadhan. Jika dahulu Ramadhan menjadi bulan yang sakral, perlahan-lahan berubah menjadi bulan yang banal. Ramadhan tidak lagi menjadi penanda romantisme hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan gambaran riuhnya urusan keduniaan. Manusia tidak lagi disibukan oleh kwgiatan spiritual semacam terwaih, tahajud, nderes atau menanti lailatul qodar karena terdesak oleh prioritas mudik, berbelanja atau menghias rumah.

Oleh sejumlah pengarang momentum Ramadhan dijadikan pijakan awal untuk membandingkan kondisi masyarakat Indonesia pada seting waktu yang berbeda. Melalui ilustrasi permasalahan yang dihadapi tokoh penulis menggambarkan kondisi zaman ketika cerpen tersebut ditulis. Misalnya, hubungan anak-bapak digmbarkan begitu jauh karena dihalangi kesibukan masyarkat kota. Sementara relasi desa-kota telah menjadi penanda hubungan keterbelakangan dan kemajuan.

Bagi masyarakat Indonesia, berbagai peristiwa di bulan Ramadhan jelaslah bukan sesuatu yang baru. Namun karena di dalamnya terdapat dimensi sosio-kultural, maka pemaknaan dan penafsiran atas Ramdahan, dan berbagai penanda budaya yang menyertainya seperti puasa, takbiran, mudik, terawih, kurma atau lailatul qodar mengalami pergeseran.

Yanusa dan Yusrizal
Selain menjadi panggung pertunjukkan berbagai ironi, Ramadhan juga panggung berbagai anomali. Berbagai ketidakwajaran dalam masyarakat terjadi atas nama momentum baru bernama Ramadhan. Ketidakwajaran tidak hanya terjadi pada individu melainkan kelompok. Ketidaknormalan inilah yang penulis sebut sebagai hiperealitas Ramadhan. Baik pada cerpen Kurma karya Yanusa Nugroho maupun Tiga Butir Kurma per-Kepala karya Yusrizal KW hiperealitas Ramadhan sangat mudah diamati pada kasha kurma.

Namun demikian, karena perbedaan latar belakang proses kreatif hiperealitas Ramadhan yang digambarkan dalam kedua cerpen tersebut berbeda. Apalalagi karena penulisnya, Yanusa Nugroho dan Yusrizal KW dipastikan memiliki latar belakang budaya yang berbeda, persepsi kedua penulis tersebut yang termanifestasi dalam cerit pendek tentu berbeda.

Yanusa Nugroho adalah penulis kelahiran Surabaya 2 Januari 1960. Sebagian besar masa kecilnya ia lalui dalam masyarakat berkultur Islam, yakni Jawa Timur. Apalagi Jawa Timur telah lama dikenal sebagai basis perkembangan Islam abangan.

Meski sempat bersekolah di Palembang pada kelas tinggi SD, Yanusa Nugroho awalnya masuk SD di Surabaya. SMP-nya ia lalui di Sidorajo sebelum akhirnya masuk SMA di Jakarta sebelum akhirnya masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Yusrizal KW adalah penulis yang dilahirkan di tengah masyarakat dengan tradisi Islam-Melayu. Ia lahir di Padang 2 November 1969 dan menghabiskan masa kecilnya di di sana. Dari sejumlah karyanya terlihat Yusrizal dibesarkan dalam tradisi Islam-Melayu yang lekat. Puisi-puisinya yang antara ain terkumpul dalam Rantak 8 (1991) Pariwisata Indonesia dalam Puisi (1991), Rumpun (1991) dan Penyair Sumatera Barat menunjukkan peran besar kebudayaan Sumatera Barat dalam proses kreatifnya.

Persamaan keyakinan Yanusa dan Yusrizal barangkali membuat persepsi mereka tentang Ramadhan dan kumra sama. Namun perbedaan latar belakang budaya tentu saja juga berpotensi membuat persepsi keduanya tentang Ramdahan dan kurma juga berbeda.

Semiotika Kurma

Cerpen Kurma digubah Yanusa dari tradisi masyarakat Jawa, entah Jawa di bagian mana. Nama tokoh utama, Satoto, yang didominasi bunyi vocal ‘o’ adalah nama yang khas ditemui pada orang Jawa. Selain itu, pada bagian awal Yanusa mengungkapkan ada kebiasaam thuk gathuk mathuk orang Jawa yang mengartikan kurma sebagai akronim dari ‘konaah romadon maghfiroh’. Kebiasaan semacam itu, sebagaimana kebiasan mengartikan kuping sebagai kaku njrepiping adalah kebiasaan orang Jawa.

Seting Jawa juga dapat diidentifikasi melalui perjalanan Jakarta-rumah dalam cerita tersebut. Satoto menempuh perjalanan Jakarta ke rumah Bapaknya dengan perjalanan darat. Sangat mungkin bahwa kampung halaman Satoto yang dimaksud adalah Jawa Tengah bagian barat.

Berbeda dengan Kurma, Tiga Butir Kurma per-Kepala bercerita tentang kehidupan masyarakat Minang. Selain dari pemilihan nama tokoh, seting Padang terungkap melalui kegemaran para tokoh merantau; ke Palembang, Bandarlampung, Jakarta, Makasaar atau tempat lain . Tradisi merantau, meski kini telah dilakukan oleh hampir seluruh orang, tetap lekat dengan tradisi masyarakat Minang di Sumatera Barat.

Ada sejumlah persamaan persepsi tentang kurma pada Yanusa dan Yusrizal yang terungkap dalam cerpen Kurma dan Tiga Butir Kurma per-Kepala. Dari judul kedua cerpen tersebut kedua penulis sepakat bahwa Ramadhan adalah bulan kurma. Ikatan Ramadhan dan kurma telah melebur dalam simbol-simbol sosial yang kadang sulit disegmentasikan. Kurma selalu ditemukan saat Ramadhan dan setiap Ramadhan selalu ada kurma, singkatnya.

Dalam cerpen Kurma dan Tiga Butir Kurma per-kepala, kurma tidak ditempatkan menjadi buah biasa. Dengan segela simbol semiotic yang menyertainya, kurma dimakani sebagai buah yang istimewa.

Pada cepren Kurma, kurma adalah simbol pertautan hubungan anak dan bapak yang selama ini berjarak. Kurma mewakili itikad baik manusia untuk senantiasa menjaga silaturahmi. Bahkan dalam cerita tersebut kurma menjadi benda yang mempertemukan Satoto dengan bapaknya di kampung. Oleh kurma, kesibukan Satoto sebagai ekskutif muda lebur tak bermakna jika dibandingkan dengan kenikmatan bersilaturahmi.

Dalam cepren Kurma kurma juga menjadi wujud lain kebersahajaan hidup. Sebab, kurma telah membuktikan bahwa perut mnausia yang sudah tidak terisi seharian penuh akan segera terasa kenyang oleh tiga butir kurma. Padahal, selepas berpuasa seseorang biasanya memiliki dorongan kuat untuk melahap makanan apapun. Kurma membuktikan bahwa ketamakan adalah dimensi jahat dri manusia yang perlu dihindari.

Pada cerpen Tiga Butir Kurma per-Kepala kurma menjadi pananda keikhlasan beramal. Sebab, meski secara nominal kurma tidak terlalu berharga, maknanya terasa sangat istimewa jika diberikan dengan ketulusan hati. Bahkan, tiga butir kurma dan keikhlasan jauh lebih menyenangkan jika dibandingkan dengan kain sarung yang berpuluh-puluh ribu harganya.

Melalui kurma, sebagai bagian kecil dari hiperelaitas Ramadhan, kedua penulis seperti sedang menyindir perubahan nilai moral dalam masyarakat. Yanusa menjungkirbalikan asumsi bahwa orang yang sukses adalah orang yang memiliki jabatan atu mobil mewah. Ternyata, meski memiliki jabatan tinggi tidak menjamin seseorang bahagia dan bangga terhadap dirinya. Justru dengan bersilaturahmi kenikmatan yang dirasakan jauh lebih besar. Jauh lebih bermakna.

Yusrizal ingin mengatakan bahwa nilai (value) tidak mestinya diukur melalui nominal saja. Nilai juga dipengaruhi oleh ketulusan hati. Maka, benda yang secara nominal tidak terlalu berharga seperti kurma bisa menjadi sangat berharga jika diberikan dengan tulus ikhlas. Bahkan pada titik tertentu kurma menjadi simbolisasi capaian spiritual yang sangat tinggi.

Hal lain yang menarik, baik dalam Kurma maupun Tiga butir kurma per-Kepala, jumlah kurma identik dengan angka tiga. Angka ganjil tersebut tentu tidak secara kebetulan dipilih oleh kedua penulis dengan latar belakangan kebudayaan berbeda tersebut. Jelas ada titik temu antara Kurma dan Tiga Butir Kurma per-Kepala. Atau ada titik temu antara Yanusa Nugroho dengan Yusrizal KW.

Titik temu tersebut sangat mungkin disebabkan oleh persamaan pengetahuan kedua penulis tersebut terhadap ajaran moral yang diajarkan Nabi Muhammad. Dalam sebuah hadits diceritakan Nabi selalu berbuka dengan tiga butir kurma, sebab ditengarai porsi tersebut adalah porsi yang sesuai dengan kebutuhan perut manusia saat berbuka.

Semarang, 29 Januari 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar