Senin, 31 Januari 2011

Kamandaka dalam Kabut Mitos dan Sejarah

HAMPIR tidak ada tokoh besar yang bebas dari mitos. Nama dan jejak mereka hampir selalu dikaitkan dengan peristiwa berbau magis. Beberapa tokoh sejarah bahkan dikisahkan dengan gaya penceritaan yang hiperbolis; kebaikannya tanpa cela atau buruknya tiada tara. Akibatnya, selain berujung pada pengkultusan, sejarah tokoh negeri ini kadang mengambang di antara bukti dan imajinasi.


Khalayak kini tahu bahwa Mbah Maridjan meninggal akibat wedhus gembel. Tubuhnya terbakar dan ditemukan dalam posisi sujud. Namun, setahun dua tahun mendatang kisah tentangnya mungkin akan berubah oleh mitos yang mengitarinya. Apalagi beberapa hari setelah kematiannya kabar beredar bahwa ia sudah tahu hari kematiannya sehingga “siap dijemput”. Padahal siapapun tahu bahwa urusan mati adalah salah satu rahasia terdalam Tuhan.

Jauh sebelum Mbah Maridjan, pemitosan terhadap tokoh (sejarah) telah berlangsung lama. Masyarakat ingin mengenang manusia yang dikasihinya dengan cara yang sempurna sehingga merasa perlu menambahkan kisah-kisah yang melegitimasi kesakralan jejaknya. Tidak jarang orang atau masyarakat yang sengaja merangkai cerita baru untuk memanipulasi sejarah. Ingatan kolektif tentang kebaikan tokoh dibangkitkan sedangkan cerita tentang keburukannya diredam, dikamuflase, atau dibiaskan.

Proses demikian tidak bisa lepas dari tendensi politis orang, kelompok, atau rezim yang memotorinya. Karenanya, mitos selalu diwujudkan dalam bentuk yang versional. Citraan yang mengemuka disesuikan dengan kapasitas dan kepentingan. Ia menjadi juru bicara yang mewakili ketelenjangan itikad di baliknya. Bahkan tidak sedikit mitos yang berujung pada konfrontasi gagasan karena satu dengan lainnya bertabrakan.

Kisah Kamandaka
Meski capain faktualitasnya berbeda, sejarah dan mitos sama-sama diciptakan oleh sebuah kepentingan. Bedanya, sejarah mengukuhkan diri melalui rangkaian bukti otentik yang dirangkai menjadi cerita sedangkan mitos menemukan legitimasi melalui keyakinan atas dogma-dogma yang telah ada. Karenanya, mitos tidak pernah diterima universal.

Kuasa mitos dalam jejak sejumlah tokoh di negeri telah mengubah banyak narasi sejarah menjadi dongeng. Jejak kehidupan presiden RI misalnya, tidak pernah bisa lepas dari kisah mistis. Soekarno konon memiliki hubungan personal dengan Nyi Roro Kidul, Soeharto memiliki wahyu cakraningrat Bu Tin, bahkan Gus Dur yang kyai sempat diperbincangkan memiliki kekuatan magis lantaran bisa mendengar perbincangan orang lain sekalipun tengah tidur.

Mitos tentang tokoh menjadi menarik karena terus memperoleh legitimasi sekalipun berada pada kuadran paling irasional. Tidak hanya terjaga, kepercayaan itu tersimpan dan siap diwariskan konstituen kepada generasi berikutnya. Ada kemungkinan, bahkan, kepercayaan terhadap mitos semakin kuat akibat hiperbola gaya dan bahasa pewarisan. Mitos akhirnya menjadi keyakinan alternatif yang ditempuh seseorang jika mengalami kebuntuan menelusuri jejak sejarah.

Sebagai pranata masyarakat mitos tetap terpelihara karena tidak dipersoalkan substansinya. Berbeda dengan sejarah yang mengharuskan perdebatan otentitisitas, yang utama dalam mitos bukan apa yang diujarkan, tapi bagaimana sesuatu diujarkan (Acep Iwan Saidi, Kompas, 14/12/2008). Tidak perlu penjelasan rigid agar mitos diakui, terpelihara, bahkan kekal. Agar tetap ada mitos hanya harus terus menerus dituturkan.

Kondisi demikian dapat kita cermati dalam pengisahan Raden Kamandaka atau Banyak Catra. Babad Pasir mengisahkannya sebagai pemuda sakti. Deskripsi tentang salah satu leluhur Banyumas itu diliputi oleh kekaguman. Bahkan perbuatan-perbuatan tidak terpuji yang dilakukannya dikemas sebagai kenakalan supaya memperoleh pemakluman. Menyusup keputren, menjadi buron, hobi gelut, gemar adu jago dituturkan sebagai ornamen hidup yang wajar meski sebenarnya menyimpang dari pakem kultural masyarakat saat itu.

Sebagai tokoh yang hidup dalam himpitan sejarah dan imajiasi kolektif masyarakat Kamandaka meninggalkan kisah yang dipenuhi tanda tanya. Perjalanannya dari Pajajajaran ke Pasirluhur sering dikaitkan dengan kekuatan mistis. Keterampilannya meloloskan diri dari pengejaran prajurit Pasirluhur misalnya, seperti dimaksudkan untuk mengekalkan superioritas fisik dan akal tokoh ini. Tentu saja agar Kamandaka dicatat sebagai pribadi yang tangguh dan cerdas.

Pilihan frame warga Banyumas untuk menetapkan Kamandaka sebagai si bengal, dan bukan si jahat, menuntut sejumlah konkuensi. Pertama, ia dikenang sebagai figur ideal yang patut diidolakan. Kenakalannya saat remaja dinilai sebagai kewajaran, meski sebenarnya terus terulang hingga dewasa. Kedua, nyaris tidak ada ruang kritik yang muncul dari warga Banyumas kepada tokoh ini. Terlebih mitos hampir selalu dibentengi ungkapan “ora ilok” yang disertai sanksi.

Sikap warga Banyumas untuk percaya narasi Babad Pasir bukan semata-semata karena motif politis untuk menjaga Kamandaka tetap menjad tokoh spiritual yang patut diidolakan. Di luar maksud itu Kamandaka mendapat legitimasi karena minimnya bukti sejarah. Karena mitos yang ada sudah telanjur kuat, sekalipun ada bukti-bukti sejarah akan bias.

Sikap demikian juga membawa risiko bahkan bisa menjadi blunder. Orisinalitas kisah Kamandaka, juga tokoh lain, akan terus ditenggelamkan. Perjalanan panjangnya yang hebat akan berakhir sebagai dongeng. Di kemudian hari orang akan menjadikan kisahnya sebagai pengantar tidur, bukan sumber refleksi yang sarat pesan moral.

Surahmat
Pegiat Komunitas Nawaksara Banjarnegara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar