Pelatihan Kuda di Pakintelan, Gunungpati
Nama Pakintelan mungkin kurang familiar. Salah satu kelurahan di Kecamatan Gunungpati ini memang agak jauh dari pusat kota. Dari jalan Raya Mangunsari, jaraknya sekitar 2 kilometer. Namun, di sana lah sebuah petrnakan kuda terletak. Tidak main-main. Salah satu kuda di sana pernah ditawar hingga Rp 350 juta. Seperti apa?
RAHMAT PETUGURAN
Adalah Rahman, pria paruh baya, yang dua tahun terakhir menjaga kandang itu. Ia mengaku merawat kuda sejak masih SMP. Karena itu, meski pernah menjajal berbagai pekerjaan, akhirnya ia kembali menjadi perawat kuda. Tidak sekadar mengawasi, ia menjaga kuda-kuda itu 24 jam. “Kuda itu gampang kembung. Kalau tidak segera ditangani bisa mati. Karena itu saya jaga 24 jam,” katanya.
Selasa (4/1) sore kemarin, hanya ada dua kuda yang saat itu di kandang. Beberapa kuda yang dulu menghuni kandang Pakintelan katanya sedang berlatih di Blitar dan Jakarta. Di kebun seluas 1 hektar itu pula sebuah track pacuan sedang dibangun. Ada puluhan balok yang sedang dipersiapkan menjadi perintang untuk latihan kuda jumping.
Menurut Rahman, secara garis besar, kuda dikategorikan menjadi dua, yakni jumping dan pacu. Jumping menuntut kekompakan kuda dan penunggang. Sebab, pada kelas ini, kuda harus melintasi berbagai rintangan. Karena itu biasanya dipilih kuda yang punya stamina bagus sekaligus cerdas. “Latihannya juga rumit. Harus sering,” kata Rahman.
Beda dengan kuda pacu. Menurut pria asal Ungaran ini, kuda pacu hanya harus bisa lari kencang. Karena itu, setiap pagi dan sore kuda pacu harus jalan setidaknya 2 kilometer.
Suatu hari di lapangan pacu Tegalwaton Salatiga, Rahman dan rekan-rekannya pernah iseng. Mereka ingin membandingkan kecepatan kuda dengan sepeda motor. Lima kuda dijejerkan dengan sebuah RX King. Kebetulan, lintasan di Tegalwaton berdampingan dengan jalan aspal. Ternyata, motor yang terkenal bisa lari kencang itu kalah. “Kuda akselerasinya cepat. Di langkah pertama bisa 40 kilometer per jam, nambah terus hingga kecepatan 150,” katanya.
Salah satu kuda pacu di kandang itu bernama Faradifa. Meski betina, postur tubuhnya tinggi besar. Tinggi punggungnya lebih dari 160 sentimeter. Padahal usianya baru lima tahun. Rahman menaksir, berat Faradifa lebih dari 3 kuintal. Sekitar tahun 2008, kuda yang lahir dan dibesarkan di kandang Pakintelan itu menjalani debutnya di lintasan pacu Pulomas. Tapi sayang, saat itu kaki kanan belakangnya terkilir sehingga sampai sekarang belum bisa berlomba lagi.
Merawat kuda, menurut Rahman sebenarnya tidak terlalu sulit. Selain makanan yang sehat, kuda harus diajak terus bergerak. Supaya aliran darahnya lancar, kuda juga harus sering-sering dikerok. Menurut Rahman, itu karena 60 persen tubuh kuda adalah jalan darah. “Supaya lancar harus sering dikerok. Biasanya dengan karet,” ungkapnya. Untuk urusan kebersihan, mamalia dari genus Equus ini juga tidak terlalu ketat. “Tidak perlu dimandikan setiap hari. Yang penting kaki selalu dibersihkan,” lanjutnya.
Hanya saja, merawat kuda perlu biaya besar. Untuk memenuhi kebutuhan makan Faradifa saja comtohnya, perlu biaya sekitar satu juta per bulan. Biaya itu digunakan untuk membeli pakan. Sebab, selain rumput kuda juga perlu makanan tambahan seperti ampas gandum dan pelet. Untuk memperoleh itu Rahman biasanya membeli dari sebuah pabrik roti.
Alat yang digunakan untuk berkuda juga termasuk mahal. Sebuah pelana harganya sampai Rp 40 juta. Akan lebih mahal karena sebagian besar peralatan itu diimpor.
Maka tidak mengherenkan jika kuda juga menjadi hewan tunggangan paling mahal. Rahman bercerita, dulu Faradifa pernah ditawar Rp 350 juta. Bukannya diberikan, pemilik justru menertawakan tawaran itu. “Faradifa mungkin memang tidak dijual karena dia lahir dan besar di sini,” katanya. Bahkan, sebuah kuda bernama Matador yang kini sedang berlatih di Blitar ditaksir mencapai harga 1,3 M. Selain fisik yang bagus, matador pernah meriah perak saat beraksi pada PON XVII di Kutai Kertanegara.
Selain Faradifa Rahman juga memeilihara kuda mungil bernama Cynthia. Ukurannya lebih menyerupai keledai. Namun Chyntia memiliki rambut bagus. Rambut punggungnya pirang tumbuh memanjang. Ketika berlari, rambut-rambut Cyntia terurai indah. Meskipun kecil, Chyntia ternyata bisa mengangkat beban hingga 90 kilogram. “Karena dia cari makan rumput liar, jadi nutrisinya lebih bagus,” kata Rahman.
Untuk melatih kuda hingga siap berlaga juga diperlukan keterampilan khusus. Rahman, meski sudah mengenal kuda sejak belia pun tidak bisa melakukannya. Karena itu, pemilik kuda berencana mendatangkan pelatih asing. Dalam waktu dekat sang pemilik bahan akan mendatangkan pelatih dari Belanda “Namanya Nick, tapi saya tidak tahu nama lengkapnya,” lanjut Rahman.
Ketika berlomba, kuda juga harus diperlakukan istimewa. Rahman menceritakan, ketika kuda-kuda yang dipeliharnya berlomba di Blitar, pemilik mengangkutnya dengan kendaraan khusus. Ketika menjadi joki di Manado ia bahkan mendapati sebuah kuda diangkut dengan pesawat Hercules. “Saya dengar harga sewa sekali jalan saja Rp 250 juta,” katanya.
Showing posts with label Desember. Show all posts
Showing posts with label Desember. Show all posts
Thursday, 20 January 2011
MASUK PENA KENCANA, PERNAH CINLOK DENGAN GURU BACA PUISI
Nana Eres, Penyair Tegal yang Beken di Semarang
Meski lahir dan besar di Tegal, nama Nana Eres cukup terkenal dalam jagad perpuisian di Semarang. Ia kerap membacakan puisi di Taman Budaya Raden Saleh. Kompetisi lokal hingga nasional pernah ia cicipi. Seperti apa?
RAHMAT PETUGURAN
Perawakannya kecil mungil. Ia senang membiarkan rambutnya terurai. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan gadis lain seumurannya. Ia lebih sering terlihat melenggang dengan jins daripada menggunakan rok. Tapi prestasi kepenyairannya boleh dibilang jempolan. Nana Eres yang bernama asli Nana Riskhi Susanti, bahkan lebih lihai membaca puisi daripada dosen-dosen yang mengajarinya.
Nana mengaku mulai menulis puisi sejak SMP. Awalnya, dia hanya senang membaca. Tapi lama kelamaan ia tergelitik menulis. “Pembaca puisi hanya hidup saat di panggung, tapi penulis puisi karyanya abadi,” katanya. Sejak saat itulah ia rajin menulis. Hingga saat ini, ratusan puisi telah ia cipta. Sebagian sudah dipublikasikan, sebagian lainnya ia biarkan di folder.
Kepenyairan Nana memang dimulai di panggung. Kompetisi paca puisi lokal hingga nasional pernah ia jajal. “Panggung pertama yang saya jajal adalah saat Porseni SD se kabupaten Tegal,” Terakhir ia menyabet medali emas dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2010 di Pontianak. Ia mengalhkan delegasi lain dari berbagai propinsi. Suara serak yang khas dipadu penghayatan yang total berhasil memukau Afrizal Malna dan Ahmadun Yosi Herfanda, juri kompetisi itu.
Mahasiswa Bahasa dan Satra Indonesia Unnes ini dikaruniai suara khas. Serak namun lantang. Ia mampu menyajikan kesedihan mendalam saat membaca puisi I can write the sadest line karya Pablo Neruda namun bisa berapi-api saat membaca puisi-puisi Rendra. Kemahirannya beralih ekspresi itu pula yang kerap ia tampilkan membacakan puisi Soetardji Colzum Bachri.
Sudah sejak lama Nana mengakui kekagumannya pada Sutardji. Puluhan karya presiden penyair itu, yang terangkum dalam O Amuk Kapak hmpir seluruhnya pernah ia bawakan. Bahkan, sejumlah kritikus pernah mengkritiknya karena puisi Nana hampir selalu mirip puisi Sutardji. “Padahal aku sudah bekerja keras menemukan karakterku sendiri, tapi persepsi orang siapa yang tahu,” ungkapnya.
Meski telah menjelajahi banyak panggung, Nana tidak canggung membaca puisi di tempat-tempat kecil. Ia kerap diminta rekan-rekannya sesama penikmat puisi berdeklamasi dalam berbagai forum diskusi. Bahkan, di tempat kecilpun ia dianggap bisa total. Ia membacakan puisi di forum-forum itu layaknya membaca puisi di panggung besar.
Salah satu catatan karir yang menurut Nana menarik adalah ketika puisinya masuk dalam antologi puisi Pena Kencana. “itu kumpulan 60 puisi terbaik tahun 2008 versi Yayasan Pena Kencana,” katanya. Ia mengaku bangga karena puisinya disejajarkan dengan puisi karya penyair senior lain. Itu setelah salah satu puisinya berjudul Puisi Pasir dimuat sebuah surat kabar nasional.
“Pena Kencana menyeleksi puisi-puisi yang terbit di berbagai surat kabar pada tahun itu. Juri memilih 60 dari ratusan puisi yang setiap minggu dimuat,” katanya.
Sebenarnya, Nana tidak lahir dari lingkungan penyair. “Bapakku kan guru olahraga,” tuturnya. Ia merasa beruntung karena menemukan teman dan mentor di sebuah sekolah teater di tegal. Di sanalah ia menempuh proses kreatif dari belajar menulis puisi hingga membacakannya. Bahkan, aku Nana, ia sempat cinta lokasi dengan salah satu tutornya.
“Salah satu yang menarik dalam catatan karir kepenyairan saya adalah kisah cintaku yang melingkar-lingkar dengan guru puisiku,” katanya.
Bagi Nana, menulis dan membaca puisi adalah cara melakoni garis nasib. “Ini karunia atau malah kutukan yang saya terima dari Tuhan,” katanya. Karena itu, ia berencana akan terus menulis dan membaca puisi. “Saya akan terus membaca sampai para penikmat puisi saya meminta saya berhenti,” lanjutnya.
“Saya punya cita-cita mengadakan panggung baca puisi tunggal bertajuk biografi baca puisi Nana Eres. Di situ ingin kutampilkan perjalanan puisi-puisiku dari awal hingga kini.”
Meski lahir dan besar di Tegal, nama Nana Eres cukup terkenal dalam jagad perpuisian di Semarang. Ia kerap membacakan puisi di Taman Budaya Raden Saleh. Kompetisi lokal hingga nasional pernah ia cicipi. Seperti apa?
RAHMAT PETUGURAN
Perawakannya kecil mungil. Ia senang membiarkan rambutnya terurai. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan gadis lain seumurannya. Ia lebih sering terlihat melenggang dengan jins daripada menggunakan rok. Tapi prestasi kepenyairannya boleh dibilang jempolan. Nana Eres yang bernama asli Nana Riskhi Susanti, bahkan lebih lihai membaca puisi daripada dosen-dosen yang mengajarinya.
Nana mengaku mulai menulis puisi sejak SMP. Awalnya, dia hanya senang membaca. Tapi lama kelamaan ia tergelitik menulis. “Pembaca puisi hanya hidup saat di panggung, tapi penulis puisi karyanya abadi,” katanya. Sejak saat itulah ia rajin menulis. Hingga saat ini, ratusan puisi telah ia cipta. Sebagian sudah dipublikasikan, sebagian lainnya ia biarkan di folder.
Kepenyairan Nana memang dimulai di panggung. Kompetisi paca puisi lokal hingga nasional pernah ia jajal. “Panggung pertama yang saya jajal adalah saat Porseni SD se kabupaten Tegal,” Terakhir ia menyabet medali emas dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2010 di Pontianak. Ia mengalhkan delegasi lain dari berbagai propinsi. Suara serak yang khas dipadu penghayatan yang total berhasil memukau Afrizal Malna dan Ahmadun Yosi Herfanda, juri kompetisi itu.
Mahasiswa Bahasa dan Satra Indonesia Unnes ini dikaruniai suara khas. Serak namun lantang. Ia mampu menyajikan kesedihan mendalam saat membaca puisi I can write the sadest line karya Pablo Neruda namun bisa berapi-api saat membaca puisi-puisi Rendra. Kemahirannya beralih ekspresi itu pula yang kerap ia tampilkan membacakan puisi Soetardji Colzum Bachri.
Sudah sejak lama Nana mengakui kekagumannya pada Sutardji. Puluhan karya presiden penyair itu, yang terangkum dalam O Amuk Kapak hmpir seluruhnya pernah ia bawakan. Bahkan, sejumlah kritikus pernah mengkritiknya karena puisi Nana hampir selalu mirip puisi Sutardji. “Padahal aku sudah bekerja keras menemukan karakterku sendiri, tapi persepsi orang siapa yang tahu,” ungkapnya.
Meski telah menjelajahi banyak panggung, Nana tidak canggung membaca puisi di tempat-tempat kecil. Ia kerap diminta rekan-rekannya sesama penikmat puisi berdeklamasi dalam berbagai forum diskusi. Bahkan, di tempat kecilpun ia dianggap bisa total. Ia membacakan puisi di forum-forum itu layaknya membaca puisi di panggung besar.
Salah satu catatan karir yang menurut Nana menarik adalah ketika puisinya masuk dalam antologi puisi Pena Kencana. “itu kumpulan 60 puisi terbaik tahun 2008 versi Yayasan Pena Kencana,” katanya. Ia mengaku bangga karena puisinya disejajarkan dengan puisi karya penyair senior lain. Itu setelah salah satu puisinya berjudul Puisi Pasir dimuat sebuah surat kabar nasional.
“Pena Kencana menyeleksi puisi-puisi yang terbit di berbagai surat kabar pada tahun itu. Juri memilih 60 dari ratusan puisi yang setiap minggu dimuat,” katanya.
Sebenarnya, Nana tidak lahir dari lingkungan penyair. “Bapakku kan guru olahraga,” tuturnya. Ia merasa beruntung karena menemukan teman dan mentor di sebuah sekolah teater di tegal. Di sanalah ia menempuh proses kreatif dari belajar menulis puisi hingga membacakannya. Bahkan, aku Nana, ia sempat cinta lokasi dengan salah satu tutornya.
“Salah satu yang menarik dalam catatan karir kepenyairan saya adalah kisah cintaku yang melingkar-lingkar dengan guru puisiku,” katanya.
Bagi Nana, menulis dan membaca puisi adalah cara melakoni garis nasib. “Ini karunia atau malah kutukan yang saya terima dari Tuhan,” katanya. Karena itu, ia berencana akan terus menulis dan membaca puisi. “Saya akan terus membaca sampai para penikmat puisi saya meminta saya berhenti,” lanjutnya.
“Saya punya cita-cita mengadakan panggung baca puisi tunggal bertajuk biografi baca puisi Nana Eres. Di situ ingin kutampilkan perjalanan puisi-puisiku dari awal hingga kini.”
PUNYA 800 SISWA, JADI JUJUKAN TURIS ARGENTINA
Pusat Pendidikan Seni Tradisi Semarangan di Klub Merby
Sekolah modern telah banyak yang bermunculan di Semarang. Selain kurikulum internasional dan program bilingual (dwibahasa), umumnya mereka menawarkan pembelajaran yang serba canggih. Sebaliknya, pusat pendidikan yang mengajarkan seni tradisi masih bisa dihitung dengan jari. Klub Merby salah satunya. Seperti apa?
RAHMAT PETUGURAN
Lagu Gambang Semarang mengalun pelan siang itu. Beberapa kali lagu “kebangsaan” warga Semarang itu di-replay. Sesekali saja lagu dolanan Mentok-mentok menyelingi. Suaranya tidak terlalu keras karena harus berebut ruang dengan suara kendaraan yang melintas di Jalan Mataram.
Klub Merby, nama tempat itu, memang berusaha menampilkan Semarang dari berbagai perspektif. Tidak hanya melalui lagu, Klub Merby juga memasang beberapa potong batik Semarangan. Beberapa manekin yang dibalut kemaja dan gaun batik terpajang di sudut ruang. Perlahan aroma jamu tradisonal juga tercium. Ada aroma jahe, semerbak mangir, juga bau kencur.
Dilihat dari depan, Klub Merby memang tidak jauh berbeda dengan toko lain di jalan Mataram. Dinding depan, layaknya toko, menggunakan kaca yang memungkinkan untuk dilihat dari luar. Namun, ketika masuk lebih dalam, hampir seluruhnya bernuansa Semarang.
Berbagai barang, dari souvenir, buku, batik, hingga makanan ringan seluruhnya bertema Semarang. Interiornya didominasi perabot dari kayu. Dinding jati ukir menyekat ruang. Meja dan kursi kayu berwarna coklat, juga dengan ornamen ukir, tertata di pojok lantai satu.
Adalah Grace Wijaya, pemilik sekaligus perancang tempat itu. Dokter gigi yang praktik di Jalan Erlangga itu konon cinta berat dengan seni tradisi Semarang. Karena itu, sekalipun sibuk, ia masih sempat mengembangkan Klub Merby. “Dia yang mendesain semua. Termasuk gedung di belakang itu,” ucap Deasy Octoriani, koordinator, sambil menunjuk bangunan tiga lantai di bagian belakang.
Lantai dua toko itu dipenuhi berbagai suvenir. Dari dolanan bocah seharga 6 ribu rupiah hingga meja jati seharga tiga setengah juta tersedia. Dakonan, gasing, yoyo, dan sempritn adalah dolanan yang paling banyak tersedia. Selain itu ada pula miniatur bangunan trdisional; lawang sewu, tugu muda, juga kuil Sam Po Kong. “Kami prikhatin melihat anak-anak saat ini justru lebih senang bermain playstation, jadi lupa dengan berbagai dolanan ini.”
Klub Merby sebenarnya hanya salah satu bagian. Sang pemilik juga mengembangan toko anak, kedai jamu, dan mart shop. Toko anak berisi sejumlah buku dan mainan anak. Namun, di sana terpampang juga buku Ungkapan Batik di Semarang karya Saroni Asikin. Buku terbitan Cipta Prima Nusantara itu satu dari sedikit buku yang mengulas batik Semarang.
Yang paling menarik tentu saja aroma jamu yang semerbak. Maklum, seluruh proses produksi jamu memang dilakukan di tempat itu. Mereka mengolah jamu dari nol. “Bahan-bahan sudah tersedia di kebun. Biasanya kita tingga cari bahan yang kurang di pasar,” demikian Deasy menuturkan.
Ketika ditanya berapa besar omzet Klub Merby, Deasy hanya tersenyum. “Kami tidak mengejar target profit. Ini kan kerja kebudayaan, yang penting bisa menutup biaya operasional,” katanya. Namun, diakui Deasy, selama ini cukup untuk membaiayi program sekaligus menggaji 0 karyawan.
Klub Merby baru didirikan sekitar 3 tahun silam. Meski baru, konsep tradisional telah menarik perhatian banyak orang. Kelas yang dibuka pun beragam. Selain batik, aksara Jawa, gambang semarang, tari semarangan, meracik jamu, juga ada merangkai janur dan dolanan bocah. “Program ini paketan. Biasany peserta memilih saah satu kelas atau beberapa sekaligus,” lanjut Deasy. Hingga kini pesertanya sekitar 800 orang. “Dari anak umur tiga setengah tahun sampai guru besar. Mungkin usianya 75 tahun,” lanjutnya.
Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, ketika pulang kampung, juga pernah menyempatkan diri mampir di sana. Fotonya dipajang berjejer dengan foto Ny. Bibit Waluyo. Sedangkan foto Hudson-Jesica, pemenang program Indonesia Mencari Bakat terpajang di bawahnya.
Ternyata, tidak hanya wisatawan lokal yang tertarik sinau di tempat itu. Banyak wisman yang menjadikan Klub Merby sebagai jujukan. Selama Desember saja sudah ada enam rombongan wisman yang mampir. Rombongan kapal pesiar yang singgah di Tanjung Emas biasanya mampir ke sana. “Paling banyak dari Argentina, Jerman, Belanda, dan Korea,” lanjut Deasy. Tidak sekadar melihat-lihat, mereka juga menyempatkan diri belajar nari atau mbatik.
Rabu sore kemarin contohnya, di lantai tiga sejumlah karyawan perusahaan multinasional sedang lenggak-lenggok berlatih menari Senggol Semarang. Sambil gojekan karena gerakan belum lentur benar, mereka menirukan gerakan instruktur satu demi satu. Satu, dua, tiga; lenggok kanan, lenggok kiri.
Sekolah modern telah banyak yang bermunculan di Semarang. Selain kurikulum internasional dan program bilingual (dwibahasa), umumnya mereka menawarkan pembelajaran yang serba canggih. Sebaliknya, pusat pendidikan yang mengajarkan seni tradisi masih bisa dihitung dengan jari. Klub Merby salah satunya. Seperti apa?
RAHMAT PETUGURAN
Lagu Gambang Semarang mengalun pelan siang itu. Beberapa kali lagu “kebangsaan” warga Semarang itu di-replay. Sesekali saja lagu dolanan Mentok-mentok menyelingi. Suaranya tidak terlalu keras karena harus berebut ruang dengan suara kendaraan yang melintas di Jalan Mataram.
Klub Merby, nama tempat itu, memang berusaha menampilkan Semarang dari berbagai perspektif. Tidak hanya melalui lagu, Klub Merby juga memasang beberapa potong batik Semarangan. Beberapa manekin yang dibalut kemaja dan gaun batik terpajang di sudut ruang. Perlahan aroma jamu tradisonal juga tercium. Ada aroma jahe, semerbak mangir, juga bau kencur.
Dilihat dari depan, Klub Merby memang tidak jauh berbeda dengan toko lain di jalan Mataram. Dinding depan, layaknya toko, menggunakan kaca yang memungkinkan untuk dilihat dari luar. Namun, ketika masuk lebih dalam, hampir seluruhnya bernuansa Semarang.
Berbagai barang, dari souvenir, buku, batik, hingga makanan ringan seluruhnya bertema Semarang. Interiornya didominasi perabot dari kayu. Dinding jati ukir menyekat ruang. Meja dan kursi kayu berwarna coklat, juga dengan ornamen ukir, tertata di pojok lantai satu.
Adalah Grace Wijaya, pemilik sekaligus perancang tempat itu. Dokter gigi yang praktik di Jalan Erlangga itu konon cinta berat dengan seni tradisi Semarang. Karena itu, sekalipun sibuk, ia masih sempat mengembangkan Klub Merby. “Dia yang mendesain semua. Termasuk gedung di belakang itu,” ucap Deasy Octoriani, koordinator, sambil menunjuk bangunan tiga lantai di bagian belakang.
Lantai dua toko itu dipenuhi berbagai suvenir. Dari dolanan bocah seharga 6 ribu rupiah hingga meja jati seharga tiga setengah juta tersedia. Dakonan, gasing, yoyo, dan sempritn adalah dolanan yang paling banyak tersedia. Selain itu ada pula miniatur bangunan trdisional; lawang sewu, tugu muda, juga kuil Sam Po Kong. “Kami prikhatin melihat anak-anak saat ini justru lebih senang bermain playstation, jadi lupa dengan berbagai dolanan ini.”
Klub Merby sebenarnya hanya salah satu bagian. Sang pemilik juga mengembangan toko anak, kedai jamu, dan mart shop. Toko anak berisi sejumlah buku dan mainan anak. Namun, di sana terpampang juga buku Ungkapan Batik di Semarang karya Saroni Asikin. Buku terbitan Cipta Prima Nusantara itu satu dari sedikit buku yang mengulas batik Semarang.
Yang paling menarik tentu saja aroma jamu yang semerbak. Maklum, seluruh proses produksi jamu memang dilakukan di tempat itu. Mereka mengolah jamu dari nol. “Bahan-bahan sudah tersedia di kebun. Biasanya kita tingga cari bahan yang kurang di pasar,” demikian Deasy menuturkan.
Ketika ditanya berapa besar omzet Klub Merby, Deasy hanya tersenyum. “Kami tidak mengejar target profit. Ini kan kerja kebudayaan, yang penting bisa menutup biaya operasional,” katanya. Namun, diakui Deasy, selama ini cukup untuk membaiayi program sekaligus menggaji 0 karyawan.
Klub Merby baru didirikan sekitar 3 tahun silam. Meski baru, konsep tradisional telah menarik perhatian banyak orang. Kelas yang dibuka pun beragam. Selain batik, aksara Jawa, gambang semarang, tari semarangan, meracik jamu, juga ada merangkai janur dan dolanan bocah. “Program ini paketan. Biasany peserta memilih saah satu kelas atau beberapa sekaligus,” lanjut Deasy. Hingga kini pesertanya sekitar 800 orang. “Dari anak umur tiga setengah tahun sampai guru besar. Mungkin usianya 75 tahun,” lanjutnya.
Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, ketika pulang kampung, juga pernah menyempatkan diri mampir di sana. Fotonya dipajang berjejer dengan foto Ny. Bibit Waluyo. Sedangkan foto Hudson-Jesica, pemenang program Indonesia Mencari Bakat terpajang di bawahnya.
Ternyata, tidak hanya wisatawan lokal yang tertarik sinau di tempat itu. Banyak wisman yang menjadikan Klub Merby sebagai jujukan. Selama Desember saja sudah ada enam rombongan wisman yang mampir. Rombongan kapal pesiar yang singgah di Tanjung Emas biasanya mampir ke sana. “Paling banyak dari Argentina, Jerman, Belanda, dan Korea,” lanjut Deasy. Tidak sekadar melihat-lihat, mereka juga menyempatkan diri belajar nari atau mbatik.
Rabu sore kemarin contohnya, di lantai tiga sejumlah karyawan perusahaan multinasional sedang lenggak-lenggok berlatih menari Senggol Semarang. Sambil gojekan karena gerakan belum lentur benar, mereka menirukan gerakan instruktur satu demi satu. Satu, dua, tiga; lenggok kanan, lenggok kiri.
PERTAMA DENGAN KONSEP STADIUM, DITAKSIR HABIS RP 5 M
Pembangunan Gereja Bethel Tahernakel Galilea di Kuala Mas
Gereja Tahernakel Galilea di Jalan Kuala Mas, kini sedang direnovasi. Bangun rancang yang unik membutktikan selera estetis jemaat yang tinggi. Terlebih sejak nol gereja ini memang dikerjakan sendiri. Seperti apa?
RAHMAT PETUGURAN
Adalah Hendy Purnomo, warga Kuala Mas yang merancang pembangunan gereja Bethel Galilea ini. Ia membuat tempat ibadah itu seperti stadium. Lantai 2 digunakan sebagai altar, lantai tiga digunakan sebagai tribun bagi para jemaat. “Supaya pandangan jemaat fokus,” katanya.
Gedung baru gereja itu berdiri di atas tanah 25 x 25 meter. Hendy dan jemaat lain merancang sendiri gereja itu. “Karena tanahnya berbentuk persegi, jadi kita tarik diagonal,” ucapnya.
Ia sengaja tidak menyerahkan pembangunanan gereja kepada kontraktor. Sejak awal hingga pembangunan di tahap ketiga, Hendy yang mengawalnya. Maklum, meski tidak bekerja di bidang konstruksi, ia punya skill di bidang desain. “Saya lulusan Teknik Sipil Unika,” katanya.
Jika dicermati, bentuk gereja ini mirip dengan gereja di Eropa. Di salah satu sudut ada menara setinggi 34 meter. Menara inilah yang menjadi daya tarik utama gereja. Di atasnya terpasang salib berukuran 3 x 2 meter. Dilihat dari kejauhan, menara ini seperti kubah. Namun, bentuknya memanjang. Para pekerja sedang mengelas salib itu pada rangka baja pada Sabtu (25/12) kemarin.
Setelah menara selesai dikerjakan, pekerja akan membuat atap utama. Tidak seperti gedung lain yang menggunakan banyak rangka, atap akan bertumpu satu rangka dari baja besar. Bentuknya menyerupai piramida empat sisi. Bentuk demikian, menurut Hendi, belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia dan rekan-rekannya yang bereksperimen merancangnya.
Di bagian dalam, titik fokus gereja ada pada panggung setinggi satu meter di lanti dua. Luasnya tidak kurang dari lima meter persegi. Nanti, di panggung itulah altar akan diletakan. Sementara jemaat duduk mengelilingi dengan bentuk 2/3 lingkaran.
Konsep stadium, menurut Hendy, adalah hasil diskusinya dengan para jemaat lain. “Mereka menghendaki bentuk seperti ini,” katanya. Konon, gereja ini adalah satu-satunya gereja yang mengadopsi konsep stadium. Kapasitas tempat duduk diperkirakan mencapai 1.500 orang.
Pembangunan ini sebenarnya telah dimulai sejak lama. “Empat tahun lalu,” kata Hendy. Proses dibuat bertahap. “Ini sudah tahap ke tiga,” lanjutnya. Dana yang diperlukan hingga gereja siap pakai Hendy memperkirakan mencapai Rp 5 miliar. Sebagian besar dana itu bersumber dari jemaat gereja.
Tidak hanya itu. Desain, bahan-bahan yang dibelanjakan, hingga tenaga kerja jemaat sendiri yang menangani. Hanya saja Hendy tetap menggunakan jasa konsultan.
Interior gerja akan banyak dihiasi kaca patri. Menurut Hendy, kaca digunakan karena bagus untuk sirkulasi cahaya. Pada kaca inilah hiasan-hiasan bergambar Yesus akan dibuat. Tujuannya, supaya jemaat semakin merasa dekat dengan Tuhan. “Semoga akhir 2011 sudah selesai,” harapnya.
Bisa jadi, Gereja Bethel Tahernakel Galilea ini adalah bukti bahwa gereja bukan tempat peribadatan semata. Gereja adalah representasi selera estetis umat. Di tempat inilah kecintaan jemaat pada Tuhan diutarakan dengan bahasa tanda.Ya, dengan bahasa tanda yang indah.
Gereja Tahernakel Galilea di Jalan Kuala Mas, kini sedang direnovasi. Bangun rancang yang unik membutktikan selera estetis jemaat yang tinggi. Terlebih sejak nol gereja ini memang dikerjakan sendiri. Seperti apa?
RAHMAT PETUGURAN
Adalah Hendy Purnomo, warga Kuala Mas yang merancang pembangunan gereja Bethel Galilea ini. Ia membuat tempat ibadah itu seperti stadium. Lantai 2 digunakan sebagai altar, lantai tiga digunakan sebagai tribun bagi para jemaat. “Supaya pandangan jemaat fokus,” katanya.
Gedung baru gereja itu berdiri di atas tanah 25 x 25 meter. Hendy dan jemaat lain merancang sendiri gereja itu. “Karena tanahnya berbentuk persegi, jadi kita tarik diagonal,” ucapnya.
Ia sengaja tidak menyerahkan pembangunanan gereja kepada kontraktor. Sejak awal hingga pembangunan di tahap ketiga, Hendy yang mengawalnya. Maklum, meski tidak bekerja di bidang konstruksi, ia punya skill di bidang desain. “Saya lulusan Teknik Sipil Unika,” katanya.
Jika dicermati, bentuk gereja ini mirip dengan gereja di Eropa. Di salah satu sudut ada menara setinggi 34 meter. Menara inilah yang menjadi daya tarik utama gereja. Di atasnya terpasang salib berukuran 3 x 2 meter. Dilihat dari kejauhan, menara ini seperti kubah. Namun, bentuknya memanjang. Para pekerja sedang mengelas salib itu pada rangka baja pada Sabtu (25/12) kemarin.
Setelah menara selesai dikerjakan, pekerja akan membuat atap utama. Tidak seperti gedung lain yang menggunakan banyak rangka, atap akan bertumpu satu rangka dari baja besar. Bentuknya menyerupai piramida empat sisi. Bentuk demikian, menurut Hendi, belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia dan rekan-rekannya yang bereksperimen merancangnya.
Di bagian dalam, titik fokus gereja ada pada panggung setinggi satu meter di lanti dua. Luasnya tidak kurang dari lima meter persegi. Nanti, di panggung itulah altar akan diletakan. Sementara jemaat duduk mengelilingi dengan bentuk 2/3 lingkaran.
Konsep stadium, menurut Hendy, adalah hasil diskusinya dengan para jemaat lain. “Mereka menghendaki bentuk seperti ini,” katanya. Konon, gereja ini adalah satu-satunya gereja yang mengadopsi konsep stadium. Kapasitas tempat duduk diperkirakan mencapai 1.500 orang.
Pembangunan ini sebenarnya telah dimulai sejak lama. “Empat tahun lalu,” kata Hendy. Proses dibuat bertahap. “Ini sudah tahap ke tiga,” lanjutnya. Dana yang diperlukan hingga gereja siap pakai Hendy memperkirakan mencapai Rp 5 miliar. Sebagian besar dana itu bersumber dari jemaat gereja.
Tidak hanya itu. Desain, bahan-bahan yang dibelanjakan, hingga tenaga kerja jemaat sendiri yang menangani. Hanya saja Hendy tetap menggunakan jasa konsultan.
Interior gerja akan banyak dihiasi kaca patri. Menurut Hendy, kaca digunakan karena bagus untuk sirkulasi cahaya. Pada kaca inilah hiasan-hiasan bergambar Yesus akan dibuat. Tujuannya, supaya jemaat semakin merasa dekat dengan Tuhan. “Semoga akhir 2011 sudah selesai,” harapnya.
Bisa jadi, Gereja Bethel Tahernakel Galilea ini adalah bukti bahwa gereja bukan tempat peribadatan semata. Gereja adalah representasi selera estetis umat. Di tempat inilah kecintaan jemaat pada Tuhan diutarakan dengan bahasa tanda.Ya, dengan bahasa tanda yang indah.
DIDIRIKAN JURAGAN GULA, BERKREASI MENJUAL ROSELA
Panti Asuhan Kristen Tanah Putih
Mengasuh puluhan anak dari berbagai latar belakang tentu bukan pekerjaan mudah. Terlebih, sebagian besar adalah anak yang awalnya “bermasalah”. Tapi itulah keseharian 12 pengasuh Panti Asuhan Kristen Tanah Putih. Mereka mengawal anak asuh sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Seperti apa?
RAHMAT PETUGURAN
Pohon natal setinggi dua meter berdiri di ruang tamu Panti Asuhan Kristen Tanah Putih di Jalan dr. Wahidin. Di bawahnya tergelatak beberapa kartu ucapan natal. “Kepada pengasuh PAK Tanah Putih, selamat natal. Semoga Tuhan memberkati,” demikian bunyi salah satunya. Beberapa anak, berusia antara 4 sampai 17 tahun asyik bercengkrama di dekatnya.
Saat ini PAK Tanah Putih mengasuh tidak kurang dari 44 anak. Rachel, wakil pimpinan panti yang mengaku lebih senang disebut ibu panti, mengatakan, dari jumlah itu 28 putri sedangkan 16 lainnya putri. Yang paling kecil 4 tahun, yang paling besar 20 tahun. “Mereka semua dari semarang. Ada yang yatim piatu, yatim atau piatu, ada juga yang karena ditelantarkan keluarganya sehingga kami asuh di sini,” ucapnya.
Salah satu anak itu, Valeri, tampak gembira menyambut natal. Ia berlari kecil meminta pangku pengasuh. Ketika seorang donatur memintanya berfoto bersama, ia tampak malu-malu.
PAK Tanah Putih didirikan pada 15 Agustus 1930 oleh seorang juragan gula kaya raya bernama Oei Tiong Ham. Ia prikhatin dengan anak-anak korban perang saat itu. Banyak yang terlantar karena orang taunya meninggal. Meski mengaku tidak tahu persis jumlahnya, panti asuhan ini telah membantu banyak anak. “Mungkin ribuan. Tapi saya tidak tahu persis jumlahnya,” lanjut Rachel.
Dari jumlah itu, banyak anak asuhan yang sudah sukses. “Ada yang sekarang jadi dokter, perawat, pengusaha, kepala sekolah, guru,” lanjut Rachel.
Awalnya PAK berlokasi di Jalan Karreweg atau Dr. Cipto nomor 82 sebelum pindah ke Karangsari. Pada masa penjajahan Jepang, PAK pindah lagi ke Jalan Wahid Hasyim. Sejak 23 Desember 1949 pindah ke Jalan Dr Wahidin Tanah Putih. Kini pengelolaannya diserahkan pada GKI Beringin Semarang.
Keberhasilan PAK mendampingi anak-anak tidak lepas dari kerja keras para pengasuhnya. Mereka mendampingi anak-anak sejak bangun hingga tidur kembali. Pukul lim pagi mereka bangun untuk berdoa bersama. Anak-anak juga disekolahkan dan dibekali beberapa keterampiln supaya hidup mandiri. “Mereka semua sekolah. Bahkan bagi yang pintar akan kami sekolahkan hingga perguruan tinggi,” lanjut Rachel.
Selain bimbingan rukhani, pendampingan psikologisjuga diberikan kepada anak-anak. Meski ada psikolog yang datang seminggu sekali, justru para pengasuhlah yang kerap harus menyelesaikannya. Sebab, anak-anak lebih dekat dengan para pengasuhnya.
Pengelola panti saat ini tengah membangun asrama supaya bisa ngopeni lebih banyak. Sebab, selama ini ada beberapa anak yang terpaksa tidak dapat diterima karena kapasitasnya penuh. “Kami akan kembalikan supaya menjadi panti putri. Yang putra, sementara ini kami tidakterima. Kami menunggu anak-anak yang saat ini ada sampai bisa mandiri,” lanjut Rachel.
pihak panti tidak hanya mengurus pendidikan. Beberapa anak yang sudah siap kerja juga dibantu. Bahkan, ada alumni yang idnikahkan oleh panti karena saat itu belum mampu. “Kalau sudah berkeluarga lain. Mereka harus sudah mandiri supaya kami mengasuh anak lainnya,” ucap Rachel sembari tersenyum.
Untuk membiayai keperluan panti, sejumlah donatur rajin menyumbangkan uang dan bahan makanan. Para donatur kebanyakan adalah perorangan. “Perusahaan ada, tapi tidak rutin,” ungkap Rachel. Pemerintah kota, provinsi, dan pusat diakui rachel juga kerap memberi bantuan.
Namun, selain itu, panti juga berkeasi membuat teh rosela, madu, dan keripik singkong untuk dijual. Menurut Rachel, produk-produk itu bahkan banyak yang telah dikirm ke Jakarta. Para donatur yang tertarik biasnya membeli produk-produk itu dalam jumlah besar. “Yang paling laku, kerpikik singkong. Enak itu,: ungkap Rachel.
Rachel optimis, anak-anak yang diasuhnya bisa menjadi manusia yang bermartabat dan diberkati Tuhan. Apalagi, menurutnya, setiap anak memiliki potensi keshalehan yang sama. “Anak yang saat kecil nakal, biasanya malah berpotensi. Mereka berbobot,” lanjutnya.
Karena itu, Rachel dan 11 orang lain mengaku tetap senang melakoni keseharian mengurus panti. Ada kepuasan batin yang tidak terukur ketika melihat anak-anak yang diasuhnya tumbuh menjadi hamba Tuhan yang taat. “Setiap anak memiliki Tuhan. Semua ini berkat roh Kudus dan Tuhan Yesus, hanya saja disampikan melalui kami. Kami puas bisa melayani mereka” tutur Rachel.
Mengasuh puluhan anak dari berbagai latar belakang tentu bukan pekerjaan mudah. Terlebih, sebagian besar adalah anak yang awalnya “bermasalah”. Tapi itulah keseharian 12 pengasuh Panti Asuhan Kristen Tanah Putih. Mereka mengawal anak asuh sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Seperti apa?
RAHMAT PETUGURAN
Pohon natal setinggi dua meter berdiri di ruang tamu Panti Asuhan Kristen Tanah Putih di Jalan dr. Wahidin. Di bawahnya tergelatak beberapa kartu ucapan natal. “Kepada pengasuh PAK Tanah Putih, selamat natal. Semoga Tuhan memberkati,” demikian bunyi salah satunya. Beberapa anak, berusia antara 4 sampai 17 tahun asyik bercengkrama di dekatnya.
Saat ini PAK Tanah Putih mengasuh tidak kurang dari 44 anak. Rachel, wakil pimpinan panti yang mengaku lebih senang disebut ibu panti, mengatakan, dari jumlah itu 28 putri sedangkan 16 lainnya putri. Yang paling kecil 4 tahun, yang paling besar 20 tahun. “Mereka semua dari semarang. Ada yang yatim piatu, yatim atau piatu, ada juga yang karena ditelantarkan keluarganya sehingga kami asuh di sini,” ucapnya.
Salah satu anak itu, Valeri, tampak gembira menyambut natal. Ia berlari kecil meminta pangku pengasuh. Ketika seorang donatur memintanya berfoto bersama, ia tampak malu-malu.
PAK Tanah Putih didirikan pada 15 Agustus 1930 oleh seorang juragan gula kaya raya bernama Oei Tiong Ham. Ia prikhatin dengan anak-anak korban perang saat itu. Banyak yang terlantar karena orang taunya meninggal. Meski mengaku tidak tahu persis jumlahnya, panti asuhan ini telah membantu banyak anak. “Mungkin ribuan. Tapi saya tidak tahu persis jumlahnya,” lanjut Rachel.
Dari jumlah itu, banyak anak asuhan yang sudah sukses. “Ada yang sekarang jadi dokter, perawat, pengusaha, kepala sekolah, guru,” lanjut Rachel.
Awalnya PAK berlokasi di Jalan Karreweg atau Dr. Cipto nomor 82 sebelum pindah ke Karangsari. Pada masa penjajahan Jepang, PAK pindah lagi ke Jalan Wahid Hasyim. Sejak 23 Desember 1949 pindah ke Jalan Dr Wahidin Tanah Putih. Kini pengelolaannya diserahkan pada GKI Beringin Semarang.
Keberhasilan PAK mendampingi anak-anak tidak lepas dari kerja keras para pengasuhnya. Mereka mendampingi anak-anak sejak bangun hingga tidur kembali. Pukul lim pagi mereka bangun untuk berdoa bersama. Anak-anak juga disekolahkan dan dibekali beberapa keterampiln supaya hidup mandiri. “Mereka semua sekolah. Bahkan bagi yang pintar akan kami sekolahkan hingga perguruan tinggi,” lanjut Rachel.
Selain bimbingan rukhani, pendampingan psikologisjuga diberikan kepada anak-anak. Meski ada psikolog yang datang seminggu sekali, justru para pengasuhlah yang kerap harus menyelesaikannya. Sebab, anak-anak lebih dekat dengan para pengasuhnya.
Pengelola panti saat ini tengah membangun asrama supaya bisa ngopeni lebih banyak. Sebab, selama ini ada beberapa anak yang terpaksa tidak dapat diterima karena kapasitasnya penuh. “Kami akan kembalikan supaya menjadi panti putri. Yang putra, sementara ini kami tidakterima. Kami menunggu anak-anak yang saat ini ada sampai bisa mandiri,” lanjut Rachel.
pihak panti tidak hanya mengurus pendidikan. Beberapa anak yang sudah siap kerja juga dibantu. Bahkan, ada alumni yang idnikahkan oleh panti karena saat itu belum mampu. “Kalau sudah berkeluarga lain. Mereka harus sudah mandiri supaya kami mengasuh anak lainnya,” ucap Rachel sembari tersenyum.
Untuk membiayai keperluan panti, sejumlah donatur rajin menyumbangkan uang dan bahan makanan. Para donatur kebanyakan adalah perorangan. “Perusahaan ada, tapi tidak rutin,” ungkap Rachel. Pemerintah kota, provinsi, dan pusat diakui rachel juga kerap memberi bantuan.
Namun, selain itu, panti juga berkeasi membuat teh rosela, madu, dan keripik singkong untuk dijual. Menurut Rachel, produk-produk itu bahkan banyak yang telah dikirm ke Jakarta. Para donatur yang tertarik biasnya membeli produk-produk itu dalam jumlah besar. “Yang paling laku, kerpikik singkong. Enak itu,: ungkap Rachel.
Rachel optimis, anak-anak yang diasuhnya bisa menjadi manusia yang bermartabat dan diberkati Tuhan. Apalagi, menurutnya, setiap anak memiliki potensi keshalehan yang sama. “Anak yang saat kecil nakal, biasanya malah berpotensi. Mereka berbobot,” lanjutnya.
Karena itu, Rachel dan 11 orang lain mengaku tetap senang melakoni keseharian mengurus panti. Ada kepuasan batin yang tidak terukur ketika melihat anak-anak yang diasuhnya tumbuh menjadi hamba Tuhan yang taat. “Setiap anak memiliki Tuhan. Semua ini berkat roh Kudus dan Tuhan Yesus, hanya saja disampikan melalui kami. Kami puas bisa melayani mereka” tutur Rachel.
AWALNYA KARENA TERTARIK SEMPE, PERNAH "DITEMBAK" CEWAK
Perjalanan Hidup Rm Riana Prapdi Pr.
Sudah satu tahun lebih Keuskupan Agung Semarang (KAS) kosong. Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo Pr sejak 2009 menjabat sebagai Uskup Koajutor Jakarta. Sementara Mgr Johanes Pujasumarta Pr yang telah dilantik secara resmi oleh Paus Benedictus II sebagai Uskup Agung Semarang, belum ditempatkan di Keuskupan Semarang. Maka, untuk sementara Keuskupan dipimpin Rm Pius Riana Prapdi sebagai administrator. Siapakah dia?
RAHMAT PETUGURAN
Romo Riana (sering dilafalkan Riono), asli kelahiran Yogyakarta. Di Kampung Gemawang, Sidoadi, di dekat Monumen Jogja Kembali ia lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak. Ia bergaul dengan banyak orang, termasuk kawan-kawan yang tidak beragama Katolik. “Banyak teman-teman saya yang muslim,” katanya.
Seperti anak kampung kebanyakan, Rm Riana kecil senang ronda. Bersama rekan-rekannya ia keliling kampung untuk menjaga keamanan. Duduk di Poskamling pun biasa ia lakoni. Bahkan, bersama teman-teman, sesekali ia mencuri jambu tetangga untuk disantap bersama. “Itu sengaja kami selamatkan. Maksudnya, kami selamatkan dari codot untuk kami makan bersama,” guraunya.
Rm Riana memang tidak ingat persis. Tapi ketika diminta menggambarkan masa kecilnya, ia mengaku tidak berbeda dengan bocal laki-laki kebanyakan. “Saya juga pernah berkelahi,” akunya. Terlebih, saat SMP ia memang memilih di sekolah negeri, sehingga teman-temannya beragam.
Ia memang sudah sejak lama ingin menjadi pelayan Tuhan. Sebagai anak dari keluarga Katolik yang taat ia terbiasa ke gereja. Bahkan, aku Rm Riana, saudaranya ada yang mengikuti jejak menjadi pelayan Tuhan. Dari empat adiknya, ada dua yang menjadi pastur. Pakdhenya juga ada yang memilih “jalan sunyi” menjadi abbas di Temanggung.
Meski begitu, tekad bulat Romo Riana untuk menjadi pelayan Tuhan justru baru muncul karena sebuah kejadian kecil. Saat itu, di sebuah gereja di dekat rumahnya akan diselenggarakan misa. Ia paling senang jika romo memberikan anggur dan roti. Namun, acara itu ternyata ditunda karena romo yang bertugas tidak hadir. Padahal, ia sangat suka anggur dan roti sampe itu. Ia lalu membatin, “kenapa harus romo yang membagikan. Saya juga bisa,” kenangnya. Sejak saat itulah ia merasa mendapat panggilan untuk hidup bersama Tuhan.
Tubuh Romo Riana yang tinggi besar, konon sempat membuat beberapa rekan putrinya tertarik. Ia sekolah di SMP Negeri 6 Yogyakarta yang siswanya dari berbagai latar belakang keyakinan. Suatu hari, salah satu rekan wanitanya mengungkapkan rasa cinta kepadanya. “Saya syukuri saja. Itu artinya saya dianggap ada,” terangnya, sambil tersenyum. “Mencintai itu tidak harus memiliki, tetapi memberi kebebasan supaya ia menemukan jalan hidup yang dikehendaki,” lanjutnya.
Kejadian semacam ternyata tidak hanya terjadi sekali. Namun, Romo Riana hanya tertawa saat diminta menyebutkan jumlah pastinya. “Tidak ingat. Tidak bisa dihitung,” selorohnya. “Maksud saya memang karena tidak ada yang dihitung.” Ia Kembali tertawa.
Jauh hari sebelum menjadi vikjen Keuskupan Agung Semarang (KAS) sejak 10 Juli 2008, Rm Riana menempuh perjalanan rukhani yang panjang. Ia ditahbiskan sekitar tahun 1995 di Seminari Tinggi Yogyakarta. Selanjutnya, ia menempuh studi di Seminari Santo Paulus Yogyakarta. “Dua tahun. Antara 1995 sampai 1997,” ucapnya.
Selesai menempuh studi, Rm Riana mengabdikan diri di Paroki Santa Perawan Maria Sragen hingga tahun 1999. Setelah itu, ia berpindah di Paroki Mlati di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Sleman. Paroki Mlati, menurut Rm Riana terletak di desa kecil yang berhadapan langsung dengan Merapi. Blog paroki ini bahkan menyebut “kami tak keberatan untuk dipanggil Paroki Desa, karena disinilah kami merasakan kedamaian, suasana gotong royong, keramahan, kejujuran pedesaan,” demikian ditulis.
Saat bertugas di Paroki Mlati inilah Rm Riana juga menjadi Direktur Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, sebuah yayasan yang didirikan Rm. YB Mangunwijaya atas keprikhatinanya pada bidang pendidikan. Baru pada tahun 2001 ia melanjutkan studi Teologfi Moral di Vatikan. Setelah selesai pada tahun 2003, ia bertugas di Paroki Kidul Loji Yogyakarta. Baru pada tahun 2008 ia ditunjuk menjadi vikjeni Keuskupan Agung Semarang.
Tidak lama setelah itu, Uskup Agung Semarang saat itu Mgr Ignatius Suharyo ditarik menjadi Uskup Agung Jakarta. Rm Riana akhirnya menjadi pelaksana tugas Uskup Agung Semarang. “Urusan biorkrasi keuskupan sementara ini saya yang menangani,” ucapnya.
Jumat 16 November lalu Paus Benediktus XVI di Takhta Suci Vatikan menunjuk Mgr Pujasumarta sebagai Uskup Agung Semarang. Namun, karena baru akan diterima 7 Januari mendatang, Rm Riana masih menjadi pelaksana tugas uskup agung. “Bula dari Vatikan akan diperlihatkan dan dibacakan pada penyambutan 7 Januari di Gereja Katedral, karena itu memang gereja Uskup Agung,” katanya.
Usia 21 hingga 22 tahun menjadi pijakan penting dalam hidup Rm Riana. Sebab, saat itulah ia memasuki tahun rukhani. Ia melakoni semacam pendidikan selama 1 tahun untuk membina rukhani. “Setiap hari hanya berdoa. Tidak sekadar dilafalkan, doa itu terinternalisasi sehingga menemukan konteks dalam kehidupan saya,” ujarnya.
Karena itu, meski mengaku kerap merasakan gejolak psikis dan biologis sebagaimana kebanyakan laki-laki, hal itu sudah bukan persoalan. “Justru seorang romo harus normal, merasakan gejolak karena setiap manusia mengalami perkembangan,” ujarnya.
Menurutnya, setiap orang mengalami perkembangan fisik, biologis, dan psikis. “Tapi jangan lupa, kemampuan spiritual juga harus dikembangkan. Tidak hanya harus diimbangi, justru perkembangan spirituallah yang harus menjadi komandan diri kita.”
Menurutnya, nafsu hanya ledakan sesaat yang muncul dari manusia. Untuk mengendalikannya Rm Riana berusaha membudayakan meditasi. “Meditasi bukan sekadar mengulang sabda Tuhan, tetapi memahami dan mencoba membangun habitus baru,” katanya.
Gejolak dalam kehidupan manusia, lanjutnya, mestinya menjadi refleksi iman.
Sebagai pengampu tugas Keuskupan Agung, Rm Riana mengaku prikhatin melihat kondisi masyarakat saat ini. Terlebih, peradaban hanya memenangkan mereka yang bersuara keras daripada yang tidak bersuara. “Akibatnya, kehidupan manusia tidak lagi bermartabat.” Manusia seolah-olah telah menjual diri kepada pasar sehingga menjadi tidak bermartabat.
Menurut Rm Riana, manusia, selain homo ekonomikus, juga homo sapiens dan homo sosial, bahkan homo spiritual. “Penting untuk mewujudkan diri sebagai manusia yang utuh,” ujarnya. Hati nurani harus tetap menjadi pemandu kehidupan supaya di tengah berbagai kesusahan, manusia bisa menemukan optimism. “sebab dalam hati nuranilah Allah berada,” ujarnya. “Jangan mengikuti arus peradaban. Hati nurani telah tumpul tertutup kepentingan,” lanjutnya.
Sudah satu tahun lebih Keuskupan Agung Semarang (KAS) kosong. Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo Pr sejak 2009 menjabat sebagai Uskup Koajutor Jakarta. Sementara Mgr Johanes Pujasumarta Pr yang telah dilantik secara resmi oleh Paus Benedictus II sebagai Uskup Agung Semarang, belum ditempatkan di Keuskupan Semarang. Maka, untuk sementara Keuskupan dipimpin Rm Pius Riana Prapdi sebagai administrator. Siapakah dia?
RAHMAT PETUGURAN
Romo Riana (sering dilafalkan Riono), asli kelahiran Yogyakarta. Di Kampung Gemawang, Sidoadi, di dekat Monumen Jogja Kembali ia lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak. Ia bergaul dengan banyak orang, termasuk kawan-kawan yang tidak beragama Katolik. “Banyak teman-teman saya yang muslim,” katanya.
Seperti anak kampung kebanyakan, Rm Riana kecil senang ronda. Bersama rekan-rekannya ia keliling kampung untuk menjaga keamanan. Duduk di Poskamling pun biasa ia lakoni. Bahkan, bersama teman-teman, sesekali ia mencuri jambu tetangga untuk disantap bersama. “Itu sengaja kami selamatkan. Maksudnya, kami selamatkan dari codot untuk kami makan bersama,” guraunya.
Rm Riana memang tidak ingat persis. Tapi ketika diminta menggambarkan masa kecilnya, ia mengaku tidak berbeda dengan bocal laki-laki kebanyakan. “Saya juga pernah berkelahi,” akunya. Terlebih, saat SMP ia memang memilih di sekolah negeri, sehingga teman-temannya beragam.
Ia memang sudah sejak lama ingin menjadi pelayan Tuhan. Sebagai anak dari keluarga Katolik yang taat ia terbiasa ke gereja. Bahkan, aku Rm Riana, saudaranya ada yang mengikuti jejak menjadi pelayan Tuhan. Dari empat adiknya, ada dua yang menjadi pastur. Pakdhenya juga ada yang memilih “jalan sunyi” menjadi abbas di Temanggung.
Meski begitu, tekad bulat Romo Riana untuk menjadi pelayan Tuhan justru baru muncul karena sebuah kejadian kecil. Saat itu, di sebuah gereja di dekat rumahnya akan diselenggarakan misa. Ia paling senang jika romo memberikan anggur dan roti. Namun, acara itu ternyata ditunda karena romo yang bertugas tidak hadir. Padahal, ia sangat suka anggur dan roti sampe itu. Ia lalu membatin, “kenapa harus romo yang membagikan. Saya juga bisa,” kenangnya. Sejak saat itulah ia merasa mendapat panggilan untuk hidup bersama Tuhan.
Tubuh Romo Riana yang tinggi besar, konon sempat membuat beberapa rekan putrinya tertarik. Ia sekolah di SMP Negeri 6 Yogyakarta yang siswanya dari berbagai latar belakang keyakinan. Suatu hari, salah satu rekan wanitanya mengungkapkan rasa cinta kepadanya. “Saya syukuri saja. Itu artinya saya dianggap ada,” terangnya, sambil tersenyum. “Mencintai itu tidak harus memiliki, tetapi memberi kebebasan supaya ia menemukan jalan hidup yang dikehendaki,” lanjutnya.
Kejadian semacam ternyata tidak hanya terjadi sekali. Namun, Romo Riana hanya tertawa saat diminta menyebutkan jumlah pastinya. “Tidak ingat. Tidak bisa dihitung,” selorohnya. “Maksud saya memang karena tidak ada yang dihitung.” Ia Kembali tertawa.
Jauh hari sebelum menjadi vikjen Keuskupan Agung Semarang (KAS) sejak 10 Juli 2008, Rm Riana menempuh perjalanan rukhani yang panjang. Ia ditahbiskan sekitar tahun 1995 di Seminari Tinggi Yogyakarta. Selanjutnya, ia menempuh studi di Seminari Santo Paulus Yogyakarta. “Dua tahun. Antara 1995 sampai 1997,” ucapnya.
Selesai menempuh studi, Rm Riana mengabdikan diri di Paroki Santa Perawan Maria Sragen hingga tahun 1999. Setelah itu, ia berpindah di Paroki Mlati di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Sleman. Paroki Mlati, menurut Rm Riana terletak di desa kecil yang berhadapan langsung dengan Merapi. Blog paroki ini bahkan menyebut “kami tak keberatan untuk dipanggil Paroki Desa, karena disinilah kami merasakan kedamaian, suasana gotong royong, keramahan, kejujuran pedesaan,” demikian ditulis.
Saat bertugas di Paroki Mlati inilah Rm Riana juga menjadi Direktur Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, sebuah yayasan yang didirikan Rm. YB Mangunwijaya atas keprikhatinanya pada bidang pendidikan. Baru pada tahun 2001 ia melanjutkan studi Teologfi Moral di Vatikan. Setelah selesai pada tahun 2003, ia bertugas di Paroki Kidul Loji Yogyakarta. Baru pada tahun 2008 ia ditunjuk menjadi vikjeni Keuskupan Agung Semarang.
Tidak lama setelah itu, Uskup Agung Semarang saat itu Mgr Ignatius Suharyo ditarik menjadi Uskup Agung Jakarta. Rm Riana akhirnya menjadi pelaksana tugas Uskup Agung Semarang. “Urusan biorkrasi keuskupan sementara ini saya yang menangani,” ucapnya.
Jumat 16 November lalu Paus Benediktus XVI di Takhta Suci Vatikan menunjuk Mgr Pujasumarta sebagai Uskup Agung Semarang. Namun, karena baru akan diterima 7 Januari mendatang, Rm Riana masih menjadi pelaksana tugas uskup agung. “Bula dari Vatikan akan diperlihatkan dan dibacakan pada penyambutan 7 Januari di Gereja Katedral, karena itu memang gereja Uskup Agung,” katanya.
Usia 21 hingga 22 tahun menjadi pijakan penting dalam hidup Rm Riana. Sebab, saat itulah ia memasuki tahun rukhani. Ia melakoni semacam pendidikan selama 1 tahun untuk membina rukhani. “Setiap hari hanya berdoa. Tidak sekadar dilafalkan, doa itu terinternalisasi sehingga menemukan konteks dalam kehidupan saya,” ujarnya.
Karena itu, meski mengaku kerap merasakan gejolak psikis dan biologis sebagaimana kebanyakan laki-laki, hal itu sudah bukan persoalan. “Justru seorang romo harus normal, merasakan gejolak karena setiap manusia mengalami perkembangan,” ujarnya.
Menurutnya, setiap orang mengalami perkembangan fisik, biologis, dan psikis. “Tapi jangan lupa, kemampuan spiritual juga harus dikembangkan. Tidak hanya harus diimbangi, justru perkembangan spirituallah yang harus menjadi komandan diri kita.”
Menurutnya, nafsu hanya ledakan sesaat yang muncul dari manusia. Untuk mengendalikannya Rm Riana berusaha membudayakan meditasi. “Meditasi bukan sekadar mengulang sabda Tuhan, tetapi memahami dan mencoba membangun habitus baru,” katanya.
Gejolak dalam kehidupan manusia, lanjutnya, mestinya menjadi refleksi iman.
Sebagai pengampu tugas Keuskupan Agung, Rm Riana mengaku prikhatin melihat kondisi masyarakat saat ini. Terlebih, peradaban hanya memenangkan mereka yang bersuara keras daripada yang tidak bersuara. “Akibatnya, kehidupan manusia tidak lagi bermartabat.” Manusia seolah-olah telah menjual diri kepada pasar sehingga menjadi tidak bermartabat.
Menurut Rm Riana, manusia, selain homo ekonomikus, juga homo sapiens dan homo sosial, bahkan homo spiritual. “Penting untuk mewujudkan diri sebagai manusia yang utuh,” ujarnya. Hati nurani harus tetap menjadi pemandu kehidupan supaya di tengah berbagai kesusahan, manusia bisa menemukan optimism. “sebab dalam hati nuranilah Allah berada,” ujarnya. “Jangan mengikuti arus peradaban. Hati nurani telah tumpul tertutup kepentingan,” lanjutnya.
TERINSPIRASI GURITA PAUL, RAMAL INDONESIA MALAYSIA 3-0
Tee Han Hok, pelatih Taichi yang Menjadi Suhu Nomor
Prediksi hasil laga final AFF Cup 2010 antara Indonesia dan Malaysia banyak bermunculan. Malaysia diperkirakan akan sulit ditaklukan, berbeda dengan ketika bertanding dalam laga penyisihan.Tapi menurut Tee Han Hok, suhu nomor yang berpraktik di Jalan Wotgandul Timur, Indonesian justru akan menang mudah 3-0. Benarkah?
RAHMAT PETUGURAN
Ramalan itu terpasang besar-besar di depan sebuah kios di Jalan Wotgandul Timur. Tulisan di atas kertas manila itu menyebut “Ramalan Suhu Nomor: Indonesia-Malaysia 3-0.” Tidak cukup itu, Han Hok, suhu nomer yang memiliki kios itu, bahkan memasang gambar kepala yang telah digunduli dilengkapi tulisan “Cukur Malaysia.”
Meski mengaku tidak melakukan analisis mendalam tentang pertandingan Final AFF Cup di Bukit Jalil 26 Desember nanti, Han Lok bukan orang yang asing dengan nomor. Sejak dua tahun lalu ia menjadi suhu nomor. Ia lihai menganilis nomor yang dipercaya bisa membawa hoki. Karena itu ia juga menyediakan berbagai nomor perdana cantik yang dipercaya membawa kemujuran.
Memang, dalam kepercayaan komunitas Tionghoa, setiap angka memiliki makna. Angka 8 misalnya, dipercaya sebagai angka keberuntungan. “Angka itu membawa hoki yang tidak putus. Sebab, kalau dilihat angka ini tersambung tanpa putus,” ucapnya.
Angka lain yang dipercaya membawa hoki adalah 168. Satu, menurut Han Hok, artinya saya, 6 artinya menuju, sedangkan 8 artinya makmur. “Dalam bahasa Mandarin, 168 dibaca i lu fa, artinya satu kali jalan langsung jaya,” terangya. Karena itu banyak orang yang mencari nomor telepon yang mengandung unsur 168.
Angka 13 yang dikenal luas sebagai angka sial, menurut han Hok justru baik. “13 baik, karena 13 mengisahkan 13 raja muda di Tiongkok yang membela kebenaran,” ujarnya. Yang kurang baik menurutnya adalah angka 4. “Empat dibaca Shi, artinya mati.”
Selain itu, angka yang naik semakin besar, menurutnya juga bagus. 6789 artinya terus menerus maju. Apalagi sembilan adalah angka terbesar. Dalam bahasa Tiongkok 9 dibaca “jiu”, artinya lama atau selamanya. “Angka 9 berurutan hingga tiga atau empat digit lebih bagus lagi,” tambahnya.
Han Hok mengaku, keterampilannya mengotak-atik angka berawal dari hobi. Dulu, pria yang masih lajang ini sesekali bermain togel kecil-kecilan. “Dulu pernah coba, kecil-kecilan. Tapi sekarang sudah tobat,” tuturnya sambil terkekeh. Dari keisengannya itu, dipadu dengan kepercayaan tentang angka yang memang sudah ada sejak lama, Han Hok menekuni angka. Ia juga berani memasang gelar sebagai suhu nomer.
Menurutnya, menganalisis angka pada permainan togel dengan perdana sangat berbeda. Togel dianalisis dengan histori. Angka yang keluar diramal berdasarkan angka-angka yang selama ini keluar. “Kadang-kadang ada polanya. Tapi itu juga hasil analisis sendiri, nggak ada pedomannya,’ ucapnya, kembali sambil tersenyum.
Selama ini banyak orang yang datang kepadanya untuk mencari nomor handphone keberuntungan. “Biasanya mereka sudah punya nomor sendiri, baru cari ke sini. Tapi juga ada yang tanya,” ujarnya.
Han Hok mengaku pernah menjual sepasang kartu perdana hingga tiga ratus ribu. Kartu itu punya nomor cantik dan sering diburu. Padahal, di pasaran biasa, perdana itu dijual antara sepuluh hingga dua puluh ribu saja.
Soal ramalan skor pertandingan Indonesia melawan Malaysia, Han Hok mengaku tidak menggunakan banyak metode. Insting, katanya. Ia juga tidak tahu prosentase akurasi ramalanya. Karena itu, ia juga tidak bisa menjamin.
Ia bahkan mengaku memasang ramalan karena terinspirasi oleh Paul. Gurita itu mendadak tenar karena berhasil meramal hasil pertandingan piala dunia, termasuk laga final Belanda melawan Spanyol. Han Hok pun mengaku menggunakan ramalan itu sebagai cara berpormosi. “Biar orang-orang yang lewat bisa lihat ke sini,” ujarnya. Sebab, selain menjual perdana cantik, Han Hok juga menjual beberapa lukisan karya pelukis Semarang.
Meski percaya nomor 9 9 sebagai nomor keberuntungan, Han Hok tidak melihat hal itu sebagai factor kemujuran Christian Gonzales sehingga produktif mencetak gol. Menurutnya, gol tercipta karena kerja sama tim. “Tugas striker memang mencetak gol. Itu kan juga karena kerja sama tim. Sudah seharusnya ia (Gonzales) mencatak gol.”
Tapi, sebagai pendukung setia Timnas ia berharap ramalannya akan terbukti. “Sekarang Timnas lagi naik daun, semoga menang besar melawan Malaysia nanti,” ujarnya.
Prediksi hasil laga final AFF Cup 2010 antara Indonesia dan Malaysia banyak bermunculan. Malaysia diperkirakan akan sulit ditaklukan, berbeda dengan ketika bertanding dalam laga penyisihan.Tapi menurut Tee Han Hok, suhu nomor yang berpraktik di Jalan Wotgandul Timur, Indonesian justru akan menang mudah 3-0. Benarkah?
RAHMAT PETUGURAN
Ramalan itu terpasang besar-besar di depan sebuah kios di Jalan Wotgandul Timur. Tulisan di atas kertas manila itu menyebut “Ramalan Suhu Nomor: Indonesia-Malaysia 3-0.” Tidak cukup itu, Han Hok, suhu nomer yang memiliki kios itu, bahkan memasang gambar kepala yang telah digunduli dilengkapi tulisan “Cukur Malaysia.”
Meski mengaku tidak melakukan analisis mendalam tentang pertandingan Final AFF Cup di Bukit Jalil 26 Desember nanti, Han Lok bukan orang yang asing dengan nomor. Sejak dua tahun lalu ia menjadi suhu nomor. Ia lihai menganilis nomor yang dipercaya bisa membawa hoki. Karena itu ia juga menyediakan berbagai nomor perdana cantik yang dipercaya membawa kemujuran.
Memang, dalam kepercayaan komunitas Tionghoa, setiap angka memiliki makna. Angka 8 misalnya, dipercaya sebagai angka keberuntungan. “Angka itu membawa hoki yang tidak putus. Sebab, kalau dilihat angka ini tersambung tanpa putus,” ucapnya.
Angka lain yang dipercaya membawa hoki adalah 168. Satu, menurut Han Hok, artinya saya, 6 artinya menuju, sedangkan 8 artinya makmur. “Dalam bahasa Mandarin, 168 dibaca i lu fa, artinya satu kali jalan langsung jaya,” terangya. Karena itu banyak orang yang mencari nomor telepon yang mengandung unsur 168.
Angka 13 yang dikenal luas sebagai angka sial, menurut han Hok justru baik. “13 baik, karena 13 mengisahkan 13 raja muda di Tiongkok yang membela kebenaran,” ujarnya. Yang kurang baik menurutnya adalah angka 4. “Empat dibaca Shi, artinya mati.”
Selain itu, angka yang naik semakin besar, menurutnya juga bagus. 6789 artinya terus menerus maju. Apalagi sembilan adalah angka terbesar. Dalam bahasa Tiongkok 9 dibaca “jiu”, artinya lama atau selamanya. “Angka 9 berurutan hingga tiga atau empat digit lebih bagus lagi,” tambahnya.
Han Hok mengaku, keterampilannya mengotak-atik angka berawal dari hobi. Dulu, pria yang masih lajang ini sesekali bermain togel kecil-kecilan. “Dulu pernah coba, kecil-kecilan. Tapi sekarang sudah tobat,” tuturnya sambil terkekeh. Dari keisengannya itu, dipadu dengan kepercayaan tentang angka yang memang sudah ada sejak lama, Han Hok menekuni angka. Ia juga berani memasang gelar sebagai suhu nomer.
Menurutnya, menganalisis angka pada permainan togel dengan perdana sangat berbeda. Togel dianalisis dengan histori. Angka yang keluar diramal berdasarkan angka-angka yang selama ini keluar. “Kadang-kadang ada polanya. Tapi itu juga hasil analisis sendiri, nggak ada pedomannya,’ ucapnya, kembali sambil tersenyum.
Selama ini banyak orang yang datang kepadanya untuk mencari nomor handphone keberuntungan. “Biasanya mereka sudah punya nomor sendiri, baru cari ke sini. Tapi juga ada yang tanya,” ujarnya.
Han Hok mengaku pernah menjual sepasang kartu perdana hingga tiga ratus ribu. Kartu itu punya nomor cantik dan sering diburu. Padahal, di pasaran biasa, perdana itu dijual antara sepuluh hingga dua puluh ribu saja.
Soal ramalan skor pertandingan Indonesia melawan Malaysia, Han Hok mengaku tidak menggunakan banyak metode. Insting, katanya. Ia juga tidak tahu prosentase akurasi ramalanya. Karena itu, ia juga tidak bisa menjamin.
Ia bahkan mengaku memasang ramalan karena terinspirasi oleh Paul. Gurita itu mendadak tenar karena berhasil meramal hasil pertandingan piala dunia, termasuk laga final Belanda melawan Spanyol. Han Hok pun mengaku menggunakan ramalan itu sebagai cara berpormosi. “Biar orang-orang yang lewat bisa lihat ke sini,” ujarnya. Sebab, selain menjual perdana cantik, Han Hok juga menjual beberapa lukisan karya pelukis Semarang.
Meski percaya nomor 9 9 sebagai nomor keberuntungan, Han Hok tidak melihat hal itu sebagai factor kemujuran Christian Gonzales sehingga produktif mencetak gol. Menurutnya, gol tercipta karena kerja sama tim. “Tugas striker memang mencetak gol. Itu kan juga karena kerja sama tim. Sudah seharusnya ia (Gonzales) mencatak gol.”
Tapi, sebagai pendukung setia Timnas ia berharap ramalannya akan terbukti. “Sekarang Timnas lagi naik daun, semoga menang besar melawan Malaysia nanti,” ujarnya.
SERUMAH TINGGAL BER-30, KANGEN ISTRI PILIH “PUASA”
Rombongan Tukang Gali Instalasi Kabel
Banyak cerita menarik tentang perantau yang coba mengais rizki di kota besar seperti Semarang. Kisah mereka menjadi narasi lain di tengah aktivitas warga yang sibuk. Rombongan tukang gali instalasi kabel optik ini salah satunya.
RAHMAT PETUGURAN
Kumandang adzan Maghirb terdengar dari Jalan Kelud Raya Sampangan. Sebuah kafe sudah menyalakan lampu hias berwarna kemerah-merahan. Saat itulah Saerozi dan Priyono sibuk menguruk sebuah lubang persis di pinggir jalan. Kaki, tangan, cangkul, bahkan baju yang mereka kenakan kotor terkena lumpur. Sabtu petang (4/12) kemarin Sampangan memang terguyur hujan, sehingga tanah galian jadi becek.
Saerozi dan Priyono adalah tukang gali saluran kabel optik. Mereka bekerja mulai pukul sepuluh siang tadi dan baru selesai menjelang Isya. Mereka tidak hanya berdua. Di titik lain ada 12 kawan mereka yang mengerjakan aktivitas serupa. Mereka berasal dari satu desa di Kecamatan Ndayang, Grobogan.
Syamsudin, ketua rombongan, bercerita, ia dan rekan-rekannya sudah tiga hari di Semarang. Total ada 14 pekerja. “Karena di rumah sawah belum musim dikerjakan kami kerja di sini,” ujarnya. Sambil menunggu pick up yang menjemputnya Syamsudin dan rekan-rekannya duduk di bawah pohon. “Anak saya juga ikut. Umurnya 16 tahun,” lanjutnya sambil menunjuk anak laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya.
Pekerja dari dusun Puluh, Ndayang, Grobogan ini memang hampir semuanya petani. “Tapi sawah kami sedikit,” Syamsudin menambahkan. Karena musim panen sudah selesai, sementara sawah sudah ditanami kedelai, mereka memilih bekerja di Semarang. “Siapa saja boleh ikut. Tidak pilah-pilih.”
Kardi, yang kini sudah berusia 52 tahun misalnya, memilih ikut karena di rumah tidak punya sawah. Sehari-hari dia bekerja membantu orang di pasar. Kakek satu cucu ini harus tetap bekerja karena punya banyak anak. Yang paling kecil bahkan masih berusia dua setengah tahun.
Menurut Sulis, salah satu anggota rombongan, mereka bekerja dengan sistem borongan. Mandor memerintahkan untuk menggali saluran sepanjang 25 kilometer. Biasanya, setiap meter dihargai seribu rupiah. Bayaran akan diterima setelah pekerjaan selesai. Hanya uang makan sebesar Rp 30 ribu yang mereka terima setiap hari. “Kadang-kadang segitu kurang,” lanjut Sulis.
Bekerja sebagai tukang gali ternyata tidak mudah. Selain tanah relatif keras, peralatan yang digunakan masih terbilang sangat sederhana. “Hanya pakai cangkul, garu, sama linggis,” terang Saerozi. Pekerjaan akan semakin berat karena di dalam sering ditemukan banyak batu. Karena itulah kadang-kadang mereka harus makan hingga empat kali sehari. “Ndak perlu enak-enak, yang penting ada nasinya,” sambung Sulis.
Meski pekerjaan itu melalahkan, mereka mengaku bisa menikmati. Menurut Saerozi tubuhnya tidak lagi terasa pegal-pegal lantaran sudah terbiasa. Memang, jauh hari sebelum menerima order di Semarang, mereka sudah bekerja di berbagai kota. “Pernah di Sumbawa, Madura, Bali, Kalimantan. Pernah juga di Batam,” terang Priyono. “Kalimantannya di mana saya tidak tahu,” sambungnya. “Yang penting Kalimantan.”
Sejak datang di Semarang tiga hari lalu mereka tinggal di sebuah kontrakan yang disediakan mandor. Total ada 30 orang yang tinggal di sana. “Selain kami ada rombongan lain. Dari Jember sama Malang kalau ndak salah,” Sulis menambahkan. Sebab tidak ada kamar, mereka tidur di atas lantai yang dialasi karpet. Meski tidak kedinginan, mereka mengaku kerap terganggu nyamuk. “Paling kami pakai sarung untuk selimut,” lanjutnya.
Usai bekerja mereka mencari hiburan sambil jalanan. Sebab di kontrakan tidak ada televisi. “Jalan-jalan di tempat-tempat seperti ini saja,” ucap Saerozi sambil menunjuk trotoar di seberang jalan. Kalau sedang malas keluar mereka memilih ngobrol sambil menikmati kopi. “Nggedebus sama teman-teman. Biasanya sampai malam,” kata dia.
Mereka akan bertahan di kontrakan hingga pekerjaan selesai. “Mungkin sekutar 20 hari,” ujar Syamsudin. Meskipun Grobogan tidak terlalu jauh, mereka akan pulang kampung sebelum pekerjaan selesai. Karena itulah mereka sering kangen keluarga di rumah.
“Sering inget anak sama istri,” ujar Saerozi. Tidak hanya itu. Karena berpisah lama, mereka juga kerap kangen bermesraan dengan istri. Lalu bagaimana? “Ya kami empet. Kami tahan saja. Puasa,” ujar Saerozi. “Kami tidak ‘macam-macam’. Takut dosa,” timpal Sulis tersenyum geli.
Banyak cerita menarik tentang perantau yang coba mengais rizki di kota besar seperti Semarang. Kisah mereka menjadi narasi lain di tengah aktivitas warga yang sibuk. Rombongan tukang gali instalasi kabel optik ini salah satunya.
RAHMAT PETUGURAN
Kumandang adzan Maghirb terdengar dari Jalan Kelud Raya Sampangan. Sebuah kafe sudah menyalakan lampu hias berwarna kemerah-merahan. Saat itulah Saerozi dan Priyono sibuk menguruk sebuah lubang persis di pinggir jalan. Kaki, tangan, cangkul, bahkan baju yang mereka kenakan kotor terkena lumpur. Sabtu petang (4/12) kemarin Sampangan memang terguyur hujan, sehingga tanah galian jadi becek.
Saerozi dan Priyono adalah tukang gali saluran kabel optik. Mereka bekerja mulai pukul sepuluh siang tadi dan baru selesai menjelang Isya. Mereka tidak hanya berdua. Di titik lain ada 12 kawan mereka yang mengerjakan aktivitas serupa. Mereka berasal dari satu desa di Kecamatan Ndayang, Grobogan.
Syamsudin, ketua rombongan, bercerita, ia dan rekan-rekannya sudah tiga hari di Semarang. Total ada 14 pekerja. “Karena di rumah sawah belum musim dikerjakan kami kerja di sini,” ujarnya. Sambil menunggu pick up yang menjemputnya Syamsudin dan rekan-rekannya duduk di bawah pohon. “Anak saya juga ikut. Umurnya 16 tahun,” lanjutnya sambil menunjuk anak laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya.
Pekerja dari dusun Puluh, Ndayang, Grobogan ini memang hampir semuanya petani. “Tapi sawah kami sedikit,” Syamsudin menambahkan. Karena musim panen sudah selesai, sementara sawah sudah ditanami kedelai, mereka memilih bekerja di Semarang. “Siapa saja boleh ikut. Tidak pilah-pilih.”
Kardi, yang kini sudah berusia 52 tahun misalnya, memilih ikut karena di rumah tidak punya sawah. Sehari-hari dia bekerja membantu orang di pasar. Kakek satu cucu ini harus tetap bekerja karena punya banyak anak. Yang paling kecil bahkan masih berusia dua setengah tahun.
Menurut Sulis, salah satu anggota rombongan, mereka bekerja dengan sistem borongan. Mandor memerintahkan untuk menggali saluran sepanjang 25 kilometer. Biasanya, setiap meter dihargai seribu rupiah. Bayaran akan diterima setelah pekerjaan selesai. Hanya uang makan sebesar Rp 30 ribu yang mereka terima setiap hari. “Kadang-kadang segitu kurang,” lanjut Sulis.
Bekerja sebagai tukang gali ternyata tidak mudah. Selain tanah relatif keras, peralatan yang digunakan masih terbilang sangat sederhana. “Hanya pakai cangkul, garu, sama linggis,” terang Saerozi. Pekerjaan akan semakin berat karena di dalam sering ditemukan banyak batu. Karena itulah kadang-kadang mereka harus makan hingga empat kali sehari. “Ndak perlu enak-enak, yang penting ada nasinya,” sambung Sulis.
Meski pekerjaan itu melalahkan, mereka mengaku bisa menikmati. Menurut Saerozi tubuhnya tidak lagi terasa pegal-pegal lantaran sudah terbiasa. Memang, jauh hari sebelum menerima order di Semarang, mereka sudah bekerja di berbagai kota. “Pernah di Sumbawa, Madura, Bali, Kalimantan. Pernah juga di Batam,” terang Priyono. “Kalimantannya di mana saya tidak tahu,” sambungnya. “Yang penting Kalimantan.”
Sejak datang di Semarang tiga hari lalu mereka tinggal di sebuah kontrakan yang disediakan mandor. Total ada 30 orang yang tinggal di sana. “Selain kami ada rombongan lain. Dari Jember sama Malang kalau ndak salah,” Sulis menambahkan. Sebab tidak ada kamar, mereka tidur di atas lantai yang dialasi karpet. Meski tidak kedinginan, mereka mengaku kerap terganggu nyamuk. “Paling kami pakai sarung untuk selimut,” lanjutnya.
Usai bekerja mereka mencari hiburan sambil jalanan. Sebab di kontrakan tidak ada televisi. “Jalan-jalan di tempat-tempat seperti ini saja,” ucap Saerozi sambil menunjuk trotoar di seberang jalan. Kalau sedang malas keluar mereka memilih ngobrol sambil menikmati kopi. “Nggedebus sama teman-teman. Biasanya sampai malam,” kata dia.
Mereka akan bertahan di kontrakan hingga pekerjaan selesai. “Mungkin sekutar 20 hari,” ujar Syamsudin. Meskipun Grobogan tidak terlalu jauh, mereka akan pulang kampung sebelum pekerjaan selesai. Karena itulah mereka sering kangen keluarga di rumah.
“Sering inget anak sama istri,” ujar Saerozi. Tidak hanya itu. Karena berpisah lama, mereka juga kerap kangen bermesraan dengan istri. Lalu bagaimana? “Ya kami empet. Kami tahan saja. Puasa,” ujar Saerozi. “Kami tidak ‘macam-macam’. Takut dosa,” timpal Sulis tersenyum geli.
SISWA GEMAR MENJELAJAH, GURU TIDAK BERANI COBA
Sekolah dengan Fasilitas Flying Fox
Tidak banyak sekolah yang menyediakan fasilitas flying fox untuk siswanya. Selain mahal,banyak yang tidak berani mencoba salah satu olahraga ekstrim ini. Tapi SMA 7 Semarang telah memilikinya sejak 2008 lalu. Seperti apa?
Sekolah yang terletak di Jalan Untung Suropati itu berdiri di atas tanah berbukit. Gedung yang satu terpisah agak berjauhan dengan lainnya. Tanah 16.350 meter persegi yang dimiliki sekolah tidak seluruhnya digunakan untuk membangun gedung. 4.231 meter di antaranya sengaja dibuat ruang terbuka hijau. Ada berbagai macam tumbuhan yang tumbuh menjulang.
Dari pohon-pohon yang tumbuh di sekitar sekolah itulah flying fox berasal. Awalnya, siswa hanya membuat lintasan tali dari pohon satu ke pohon lain. Namun, karena masih menggunakan tali, lintasan itu hanya digunakan untuk latihan memanjat. Baru pada tahun 2008 sekolah membangun lintasan permanen dari kawat kabel. “Dananya hasil patungan sekolah dengan alumni,” ujar Wakasek Sarana dan Prasarana Sri Yulianti, Jumat (3/12) kemarin.
Sri menambahkan, beberapa alumni sekolahnya memang bekerja di Badan SAR Daerah (Basarda) sehingga menguasai urusan semacam itu. Kini, setelah dua tahun dibangun, fasilitas itu masih kerap digunakan. Bahkan, siswa yang berminat menguji adrenalin dengan fasilitas itu semakin banyak. “Terutama saat ekstrakurikuler Pramuka setiap Jumat,” sambung Neti Tri Lestari, Wakasek Kesiswaan. “Tahun ini ada 356 siswa baru yang wajib ikut Pramuka,” lanjut dia.
Meski awalnya banyak siswa yang takut, kini fliying fox jadi permainan yang sangat digemari. Hampir setiap Jumat sore siswa yang tergabung dalam Dewan Ambalan berlatih. Bahkan, merasa tidak cukup dengan fasilitas yang ada, belakang mereka sering berpetualang di tempat lain. Kegemaran mereka pun bertambah, tidak hanya naik gunung, tapi juga rafting dan caving.
“Kemarin kami coba rafting di jembatan Tinjomoyo. Tingginya mungkin 15 meter,” ucap Edi Gunawan, siswa kelas XII. “Gua Kiskendo di Kendal juga pernah kami telusuri,” timpal I Gede Oka, siswa lainnya.
Gua Kiskendo di Desa Trayu Kecamatan Singorojo Kendal termasuk gua yang sulit dijelajahi. Selain panjang, semakin dalam gua semakin sempit. Penjelajah gua sering harus menundukkan badannya karena tidak cukup untuk berdiri. “Di titik tertentu, karena terhalang stalaktit kami harus merangkak,” Oka bercerita. Padahal, gua itu dialiri air, sehingga Okta dan kelima rekannya yang saat itu ikut basah kuyup.
Neti bercerita, gagasan membuat fling fox muncul supaya siswa gemar dengan ekstrakurikuler Pramuka. “Kesan Pramuka kan membosankan, jadi kami sediakan supaya anak-anak semangat,” ujarnya. “Saya pikir ini perlu karena flying fox kan juga mengajarkan tali temali dan melatih siswa percaya diri.” Terlebih, lanjut Neti, ada tipe siswa yang kurang sukses belajar di kelas tapi justru menonjol di bidang lain sehinga perlu difasilitasi.
Selain digunakan siswa, instalasi flying fox yang dimiliki SMA 7 ternyata kerap digunakan orang luar. Sejumlah sekolah di sekitar Manyaran pernah meminjamnya untuk berbagai kegiatan. “Boleh digunakan, tapi tetap harus izin dulu,” ungkap Sri. Pihaknya tidak memasang tarif, hanya perlu kontribusi untuk pemeliharaan alat. Maklum, biaya pembangunan faslitas itu terhitung mahal. “Di atas 20 juta,” lanjut Sri.
Menariknya, tidak banyak guru yang memanfaatkan fasilitas itu. Hanya beberapa guru putra yang berani mencoba. Ibu-ibu guru justru mengaku ngeri kalau harus meluncur dari atas kabel dengan kecepatan tinggi. “Apalagi saya. Jelas ndak berani,” aku Sri Yulianti sambil melihat tubuhnya. Tubuh guru bahasa Inggris ini memang terlihat lebih tambun.
Jika dilihat, lintasan sepanjang hampir 100 meter itu memang ngeri. Pantas tidak semua orang berani mencobanya. Titik start dibuat di atas tebing setinggi 15 meter melintasi di atas lapangan yang sudah dipaving. Jika terjadi kecelakaan jelas sangat berbahaya. “Tapi sejauh ini aman. Sebelum kami datangkan alat, kami sudah siapkan tenaga yang terampil mengoperasikan alat-alat seperti ini,” pungkas Neti.
Tidak banyak sekolah yang menyediakan fasilitas flying fox untuk siswanya. Selain mahal,banyak yang tidak berani mencoba salah satu olahraga ekstrim ini. Tapi SMA 7 Semarang telah memilikinya sejak 2008 lalu. Seperti apa?
Sekolah yang terletak di Jalan Untung Suropati itu berdiri di atas tanah berbukit. Gedung yang satu terpisah agak berjauhan dengan lainnya. Tanah 16.350 meter persegi yang dimiliki sekolah tidak seluruhnya digunakan untuk membangun gedung. 4.231 meter di antaranya sengaja dibuat ruang terbuka hijau. Ada berbagai macam tumbuhan yang tumbuh menjulang.
Dari pohon-pohon yang tumbuh di sekitar sekolah itulah flying fox berasal. Awalnya, siswa hanya membuat lintasan tali dari pohon satu ke pohon lain. Namun, karena masih menggunakan tali, lintasan itu hanya digunakan untuk latihan memanjat. Baru pada tahun 2008 sekolah membangun lintasan permanen dari kawat kabel. “Dananya hasil patungan sekolah dengan alumni,” ujar Wakasek Sarana dan Prasarana Sri Yulianti, Jumat (3/12) kemarin.
Sri menambahkan, beberapa alumni sekolahnya memang bekerja di Badan SAR Daerah (Basarda) sehingga menguasai urusan semacam itu. Kini, setelah dua tahun dibangun, fasilitas itu masih kerap digunakan. Bahkan, siswa yang berminat menguji adrenalin dengan fasilitas itu semakin banyak. “Terutama saat ekstrakurikuler Pramuka setiap Jumat,” sambung Neti Tri Lestari, Wakasek Kesiswaan. “Tahun ini ada 356 siswa baru yang wajib ikut Pramuka,” lanjut dia.
Meski awalnya banyak siswa yang takut, kini fliying fox jadi permainan yang sangat digemari. Hampir setiap Jumat sore siswa yang tergabung dalam Dewan Ambalan berlatih. Bahkan, merasa tidak cukup dengan fasilitas yang ada, belakang mereka sering berpetualang di tempat lain. Kegemaran mereka pun bertambah, tidak hanya naik gunung, tapi juga rafting dan caving.
“Kemarin kami coba rafting di jembatan Tinjomoyo. Tingginya mungkin 15 meter,” ucap Edi Gunawan, siswa kelas XII. “Gua Kiskendo di Kendal juga pernah kami telusuri,” timpal I Gede Oka, siswa lainnya.
Gua Kiskendo di Desa Trayu Kecamatan Singorojo Kendal termasuk gua yang sulit dijelajahi. Selain panjang, semakin dalam gua semakin sempit. Penjelajah gua sering harus menundukkan badannya karena tidak cukup untuk berdiri. “Di titik tertentu, karena terhalang stalaktit kami harus merangkak,” Oka bercerita. Padahal, gua itu dialiri air, sehingga Okta dan kelima rekannya yang saat itu ikut basah kuyup.
Neti bercerita, gagasan membuat fling fox muncul supaya siswa gemar dengan ekstrakurikuler Pramuka. “Kesan Pramuka kan membosankan, jadi kami sediakan supaya anak-anak semangat,” ujarnya. “Saya pikir ini perlu karena flying fox kan juga mengajarkan tali temali dan melatih siswa percaya diri.” Terlebih, lanjut Neti, ada tipe siswa yang kurang sukses belajar di kelas tapi justru menonjol di bidang lain sehinga perlu difasilitasi.
Selain digunakan siswa, instalasi flying fox yang dimiliki SMA 7 ternyata kerap digunakan orang luar. Sejumlah sekolah di sekitar Manyaran pernah meminjamnya untuk berbagai kegiatan. “Boleh digunakan, tapi tetap harus izin dulu,” ungkap Sri. Pihaknya tidak memasang tarif, hanya perlu kontribusi untuk pemeliharaan alat. Maklum, biaya pembangunan faslitas itu terhitung mahal. “Di atas 20 juta,” lanjut Sri.
Menariknya, tidak banyak guru yang memanfaatkan fasilitas itu. Hanya beberapa guru putra yang berani mencoba. Ibu-ibu guru justru mengaku ngeri kalau harus meluncur dari atas kabel dengan kecepatan tinggi. “Apalagi saya. Jelas ndak berani,” aku Sri Yulianti sambil melihat tubuhnya. Tubuh guru bahasa Inggris ini memang terlihat lebih tambun.
Jika dilihat, lintasan sepanjang hampir 100 meter itu memang ngeri. Pantas tidak semua orang berani mencobanya. Titik start dibuat di atas tebing setinggi 15 meter melintasi di atas lapangan yang sudah dipaving. Jika terjadi kecelakaan jelas sangat berbahaya. “Tapi sejauh ini aman. Sebelum kami datangkan alat, kami sudah siapkan tenaga yang terampil mengoperasikan alat-alat seperti ini,” pungkas Neti.
TANDING DI OMAN, LATIHAN DI PANTAI BANDENGAN
Melihat Kesederhanaan Atlet Woodbal saat Latihan
Saat sebagian atlet kebanjiran bonus karena berhasil meraih medali pada Asean Games, sejumlah atlet lain berlatih dalam kesederhanaan. Belum punya tempat latihan, mereka menggunakan fasilitas seadanya.
Padahal, atlet tim nasional (timnas) woodball Indonesia tidak kalah berprestasi. Ahris Sumaryanto, salah satu anggota tim, bahkan pernah menjadi juara satu dunia putra. Namanya sempat bertengger di posisi paling atas daftar atlet woodball dunia versi Internastioan Wood Ball Federation (IWBF). Namun karena jarang ikut kompetisi namanya tergusur atlet asing.
Tidak hanya itu. 25 sampai 30 November lalu mereka juga berhasil meraih 3 medali emas pada ajang Taiwan Open di Taiwan. “Tunggal putra dapat satu emas, putri dapat satu, dan tim putra dapat satu,” tutur Kriswantoro, atlet senior yang merangkap jadi official. “Padahal target kami tidak setinggi itu,” lanjutnya.
Ika Yulianingsih, atlet asal Kudus, menjadi atlet paling produktif. Dia mendapat satu emas pada nomor fairway competition putri dan dua perak, masing-masing pada stroke competition double dan fairway competition team.
Pada kompetisi di Taiwan kemarin timnas mengirim 12 atlet. Sebagian besar memang masih duduk sebagai mahasiswa. Ika contohnya, kini masih duduk di semester tujuh pada jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Rekreasi (PJKR) Unnes. Demikian pula tiga rekannya, Agustin Hidayah, Nuraini, dan Kartini. Sedangkan Ida Ayu Ratih juga kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bali.
“Kalau yang dua sudah lulus, dan dua lagi dari Kostrad. Kebetulan tugas di Karanganyar tapi ikut latihan di sini,” terang Krisbiantoro.
Siang yang terik pada Kamis (2/12) kemarin mereka terlihat sibuk latihan. Karena belum memiliki lapangan pasir mereka menggunakan lapangan voley pantai Unnes yang sangat sederhana. “Sebenarnya ini masa rest, tapi kami gunakan untuk latihan bebas,” lanjut Kris. Kondisi lapangan memang tampak kurang bagus. Pasir tidak rata sehingga pukulan kurang akurat.
Di sela-sela latihan, mereka berteduh di sebuah gubuk bambu beratap terpal. Untuk mengusir dahaga mereka hanya berbekal air mineral dan es teh yang dibeli dari kantin. “Masih untung karena latihan dibiayai KONI. Kami ndak sampai urunan kok,” seloroh Matius Bungan, atlet dari Kostrad Karanganyar.
Meski sarana terbatas, mereka tetap semangat. Mereka bahkan sedang mempersiapkan diri bertanding pada Asean Beach Games (ABG) di Oman 6 sampai 18 Desember mendatang. “Sebelumnya kami berlatih di lapangan rumput. Tapi karena di Oman menggunakan lapangan pasir kami coba menyesuaikan,” kata Kris.
Pada kompetisi ABG nanti mereka mengaku tidak punya target muluk-muluk. Sebab, menurut Kris, Taiwan dan Oman masih jadi musuh tangguh. Tapi mereka juga tidak mau pulang dengan tangan hampa. “Yang penting dapat mendali dulu,” ujarnya.
Meski berlatih di lapangan pasir, kendala masih saja ditemui. Jenis pasir yang akan digunakan di Oman berbeda dengan pasir yang ada. “Mungkin di sana lebih lembut,” lanjut Kris. Karena itu mereka berencana berlatih di pantai Bandengan Jepara. “Mudah-mudahan di Bandengan ada pasir yang cocok,” kanjut dia.
Di Indonesia memang tidak banyak fasilitas woodball yang baik. Kris menambahkan, atlet woodball biasanya menggunakan lapangan golf untuk latihan. “Teknik woodball dan golf hampir sama. Tidak ada perbedaan substansial,” ucapnya. Atlet hanya harus menyesuaikan karena stik woodball lebih berat. Bolanya puluhan kali lebih besar sehingga tenaga yang digunakan juga lebih besar. Hanya saja, pada woodbal jarak tembaknya tidak terlalu jauh. Bola dipukul menggelinding, bukan melayang seperti pada pukulan hole in one golf.
Menurut Kris, woodball mulai dikenal publik Indonesia sekitar 5 tahun lalu. “Yang buat orang Taiwan. Makanya markas federasi woodball dunia juga ada di sana,” lanjutnya. Pengurus federasiwoodball Indonesia sedang melobi KONI supaya bisa dipertandingkan di PON. “Semoga nanti juga bisa ditandingkan di Asean Games,” lanjutnya.
Rahmat Petuguran untuk Radar Semarang
Saat sebagian atlet kebanjiran bonus karena berhasil meraih medali pada Asean Games, sejumlah atlet lain berlatih dalam kesederhanaan. Belum punya tempat latihan, mereka menggunakan fasilitas seadanya.
Padahal, atlet tim nasional (timnas) woodball Indonesia tidak kalah berprestasi. Ahris Sumaryanto, salah satu anggota tim, bahkan pernah menjadi juara satu dunia putra. Namanya sempat bertengger di posisi paling atas daftar atlet woodball dunia versi Internastioan Wood Ball Federation (IWBF). Namun karena jarang ikut kompetisi namanya tergusur atlet asing.
Tidak hanya itu. 25 sampai 30 November lalu mereka juga berhasil meraih 3 medali emas pada ajang Taiwan Open di Taiwan. “Tunggal putra dapat satu emas, putri dapat satu, dan tim putra dapat satu,” tutur Kriswantoro, atlet senior yang merangkap jadi official. “Padahal target kami tidak setinggi itu,” lanjutnya.
Ika Yulianingsih, atlet asal Kudus, menjadi atlet paling produktif. Dia mendapat satu emas pada nomor fairway competition putri dan dua perak, masing-masing pada stroke competition double dan fairway competition team.
Pada kompetisi di Taiwan kemarin timnas mengirim 12 atlet. Sebagian besar memang masih duduk sebagai mahasiswa. Ika contohnya, kini masih duduk di semester tujuh pada jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Rekreasi (PJKR) Unnes. Demikian pula tiga rekannya, Agustin Hidayah, Nuraini, dan Kartini. Sedangkan Ida Ayu Ratih juga kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bali.
“Kalau yang dua sudah lulus, dan dua lagi dari Kostrad. Kebetulan tugas di Karanganyar tapi ikut latihan di sini,” terang Krisbiantoro.
Siang yang terik pada Kamis (2/12) kemarin mereka terlihat sibuk latihan. Karena belum memiliki lapangan pasir mereka menggunakan lapangan voley pantai Unnes yang sangat sederhana. “Sebenarnya ini masa rest, tapi kami gunakan untuk latihan bebas,” lanjut Kris. Kondisi lapangan memang tampak kurang bagus. Pasir tidak rata sehingga pukulan kurang akurat.
Di sela-sela latihan, mereka berteduh di sebuah gubuk bambu beratap terpal. Untuk mengusir dahaga mereka hanya berbekal air mineral dan es teh yang dibeli dari kantin. “Masih untung karena latihan dibiayai KONI. Kami ndak sampai urunan kok,” seloroh Matius Bungan, atlet dari Kostrad Karanganyar.
Meski sarana terbatas, mereka tetap semangat. Mereka bahkan sedang mempersiapkan diri bertanding pada Asean Beach Games (ABG) di Oman 6 sampai 18 Desember mendatang. “Sebelumnya kami berlatih di lapangan rumput. Tapi karena di Oman menggunakan lapangan pasir kami coba menyesuaikan,” kata Kris.
Pada kompetisi ABG nanti mereka mengaku tidak punya target muluk-muluk. Sebab, menurut Kris, Taiwan dan Oman masih jadi musuh tangguh. Tapi mereka juga tidak mau pulang dengan tangan hampa. “Yang penting dapat mendali dulu,” ujarnya.
Meski berlatih di lapangan pasir, kendala masih saja ditemui. Jenis pasir yang akan digunakan di Oman berbeda dengan pasir yang ada. “Mungkin di sana lebih lembut,” lanjut Kris. Karena itu mereka berencana berlatih di pantai Bandengan Jepara. “Mudah-mudahan di Bandengan ada pasir yang cocok,” kanjut dia.
Di Indonesia memang tidak banyak fasilitas woodball yang baik. Kris menambahkan, atlet woodball biasanya menggunakan lapangan golf untuk latihan. “Teknik woodball dan golf hampir sama. Tidak ada perbedaan substansial,” ucapnya. Atlet hanya harus menyesuaikan karena stik woodball lebih berat. Bolanya puluhan kali lebih besar sehingga tenaga yang digunakan juga lebih besar. Hanya saja, pada woodbal jarak tembaknya tidak terlalu jauh. Bola dipukul menggelinding, bukan melayang seperti pada pukulan hole in one golf.
Menurut Kris, woodball mulai dikenal publik Indonesia sekitar 5 tahun lalu. “Yang buat orang Taiwan. Makanya markas federasi woodball dunia juga ada di sana,” lanjutnya. Pengurus federasiwoodball Indonesia sedang melobi KONI supaya bisa dipertandingkan di PON. “Semoga nanti juga bisa ditandingkan di Asean Games,” lanjutnya.
Rahmat Petuguran untuk Radar Semarang
Saturday, 4 December 2010
Yogyakarta, yang Penting Sejahtera
Kali ini SBY blunder. Pernyataannya bahwa Yogyakarta menganut sistem monarkhi sehingga bertentangan dengan azas demokrasi menuai protes. Itu terjadi karena SBY mengartikan demokrasi hanya sebagai seremonial memilih pemimpin belaka. Barangkali demokrasi dianggap sebagai proses coblosan. Ia lupa ekspresi tertinggi demokrasi adalah kenteraman dan kesejahteraan.
Yogyakarta kini dalam kondisi relatif baik. Dibandingkan propinsi lain di Indonesia kondisi sosial ekonomi Yogyarakarta relatif baik. Bahkan, kondisi kulturalnya sangat istimewa. Kondisi demikian sangat mendukung aktivitas warganya bekerja. Mereka bisa bebas dan tenang bekerja, sekolh, atau menjalankan bisnis. Selama ini tidak ada konflik menonjol di sana.
Kondisi yang kondusif itu justru akan terlukai jika gubernur dipilih. Bayangkan, betapa riuhnya perebutan kursi gubernur. Elit politik akan perang wacana sehingga membuat masyarakat berkubu-kubu untuk saling mengalahkan. Bukan tidak mungkin masyarakat Yogyakarta terpecah. Kerukunan yang selam ini menjadi nafas kehidupan di sana akan terusik atau bahkan hilang.
Mestinya SBY tidak perlu ngurusi hal demikian. Demokrasi toh hany cara menyejahterakan rakyat. Sebagai cara, tentu saja demokrasi bisa diganti. Kalau saat ini Yogyakarta sudah kondusif mengapa perlu meniru demokrasi? Toh masyarakat tidak pernah mendambakan demokrasi. Yang rakyat inginan adalah kesejahteraan, Tuan Presiden.
Yogyakarta kini dalam kondisi relatif baik. Dibandingkan propinsi lain di Indonesia kondisi sosial ekonomi Yogyarakarta relatif baik. Bahkan, kondisi kulturalnya sangat istimewa. Kondisi demikian sangat mendukung aktivitas warganya bekerja. Mereka bisa bebas dan tenang bekerja, sekolh, atau menjalankan bisnis. Selama ini tidak ada konflik menonjol di sana.
Kondisi yang kondusif itu justru akan terlukai jika gubernur dipilih. Bayangkan, betapa riuhnya perebutan kursi gubernur. Elit politik akan perang wacana sehingga membuat masyarakat berkubu-kubu untuk saling mengalahkan. Bukan tidak mungkin masyarakat Yogyakarta terpecah. Kerukunan yang selam ini menjadi nafas kehidupan di sana akan terusik atau bahkan hilang.
Mestinya SBY tidak perlu ngurusi hal demikian. Demokrasi toh hany cara menyejahterakan rakyat. Sebagai cara, tentu saja demokrasi bisa diganti. Kalau saat ini Yogyakarta sudah kondusif mengapa perlu meniru demokrasi? Toh masyarakat tidak pernah mendambakan demokrasi. Yang rakyat inginan adalah kesejahteraan, Tuan Presiden.
Subscribe to:
Posts (Atom)