Showing posts with label PLN. Show all posts
Showing posts with label PLN. Show all posts

Wednesday, 26 September 2012

Menagih Janji Perubahan PLN...



UCAPAN lelaki itu bikin saya penasaran. “Kalau boleh milih, saya pengin tetap jadi Dirut PLN,” kata Dahlan Iskan tak lama setelah ditunjuk SBY jadi Menteri BUMN. Memilih jadi Dirut PLN daripada menteri? Kenapa? Bukankah jabatan menteri jauh lebih bergengsi?

Pengusaha media ini memberi lima alasan kenapa dia begitu jatuh cinta pada perusahan setrum negara itu. Pertama, mayoritas orang PLN adalah orang yang otaknya encer. Problem-problem sulit cepat mereka pecahkan. Sejak dari konsep, roadmap sampai aplikasi teknisnya. Kedua, latar belakang pendidikan orang PLN umumnya teknologi sehingga sudah terbiasa untuk berpikir logis.

Pasang Baru, 3 Hari (Harus) Nyala!


"MANA bisa?" Itu tanggapan mayoritas karyawan PLN APJ Semarang saat MAPJ Mochamad Harmasto menginisiasi program bertajuk “Pasang Baru Tiga Hari Nyala”, awal tahun 2010 lalu. Itu ekspresi pesimis dan dianggap tidak masuk akal. Pasalnya, sejak dulu layanan pasang baru biasanya selesai sekitar seminggu.

Keren! Di Ambarawa CoP Hanya 0,17



JAJARAN PLN UPJ Ambarawa boleh tersenyum bangga jika bicara capaian Colecting Periode (CoP). Pasalnya, UPJ yang kini dipimpin manajer UPJ Ninik Kun Maryati itu berhasil menekan CoP hingga menjadi yang terendah se-Indonesia, yakni 0,17 pada September 2011. 

Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding standar World Class Services (CWS) versi KEPCO yakni 5, juga di bawah capaian rata-rata APJ Salatiga yang kini berada pada angka 0,36

Membumikan Spirit WCS Hingga Lapis Terbawah



KERTAS itu seukuran A3. Tampak rapi terpasang dalam pigura kayu berwarna hitam. Siapa pun yang melintasi lorong samping ruang MAPJ di lantai tiga kantor APJ Salatiga pasti akan melihatnya. Meski terapit pigura lain, kertas ini tampak mencolok. Pasalnya, kertas itu berisi dokumen penting 11 nilai excellent costumer service yang dirumuskan karyawan APJ Salatiga Januari 2010 silam.

APJ Kudus, Rapatkan Barisan Menekan Susut



HAMPIR tengah malam. Nandar duduk di atas tikar di tepi jalan lingkar Simpang Tujuh, Kudus, Jawa Tengah. Ia menggelar mainan anak, menawarkannya pada pengunjung yang hilir mudik. Malam itu kebetulan akhir pekan. Ratusan warga Kudus berdatangan. Ada yang berniat cari makan, ada yang sekadar menikmati angin malam.

Kudus memang telah lama menjadi pusat keramaian di kawasan Muria. Tak heran jika kota ini selalu sibuk, siang dan malam. Tak hanya diisi kegiatan industri dan bisnis, Kudus yang Semarak itu juga menawarkan beragama hiburan. Terutama pada akhir pekan, malam berjalan lamban. Warga berdatangan ke Simpang Tujuh yang sejuk itu.